
About Us
Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.
Anniversary
Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).
The Green Patriot
The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.
Berkawan Dengan Kesulitan
Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.
Featured 5
Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.
Sabtu, 23 April 2016
Sowan Pemuda Nusantara: Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ

Sabtu, 02 April 2016
Sruput Makna: Berkawan dengan Kesulitan
Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat
dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada
kemudahan. Bersama kesulitan, benar-benar selalu ada kemudahan. Jika
telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan
selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap
(al-Insyirah: 1-8).Sruput Makna: Belajar dari Bung Karno
Siapa yang tak megenal Ir. Soekarno, Pria ini tidak saja popular dan dikagumi di Indonesia, tapi juga namanya banyak dikenal di berbagai belahan dunia sebagai seorang orator ulung, pejuang revolusi, dan peletak dasar nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia. Bung Karno (sapaan akrab Soekarno) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 06 Juni 1901. Sebagai seorang pemuda yang lahir dari rahim ibu pertiwi dan diberikan kesempatan untuk memimpin bangsa Indonesia selama 21 tahun, beliau begitu menunjukkan kecintaanya terhadap negri ini dalam bentuk pengabdian, sumbangsih gagasan, serta penghargaanya terhadap persatuaan dan kemanusiaan.
Dalam salah satu pidatonya Bung Karno menyampaikan bahwa “Tuhan memberikan kepada saya satu kali kehidupan, dan kehidupan yang hanya sekali ini, 100 persen saya berikan hidup ini kepada Indonesia. Andai Tuhan berikan saya dua kali kehidupan, maka 200 persen hidup saya saya berikan untuk Indonesia”.
Bung Karno adalah tipe orang yang tidak mudah puas, penuh keraguan, selalu mencari kebenaran dan memiliki penghayatan yang luar biasa. Sifat-sifat tersebut terlihat dari kisah beliau dalam menitih perjalananya menemukan Tuhan. Kisah yang jarang kita temukan di buku-buku sejarah ataupun cerita guru dan masyarakat tentang beliau.
Bung Karno mendekati Tuhan dengan mencoba masuk dari berbagai jalan. Ia berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Dalam pengakuanya beliau mengatakan bahwa “kakeknya menanamkan pada dirinya kebudayaan jawa dan mistik. Ayahnya teosofi dan Islamisme. Ibunya Hinduisme dan Buddishme.” Pengenalanya pada Islam semakin mendalam ketika ia tinggal di rumah Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya.
Pada Pertengahan 1920-an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuatnya semakin mendekat kepada Tuhan. Seperti dalam pengakuanya:
“Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di Negri kami sebagian besar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan, selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju pada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Mahakuasa sebagai Tuhan personal”.
Berbagai cobaan hidup yang menimpa diri Bung Karno, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih sensitif terhadap ketuhanan. Dalam ungkapan Im Yang Tjoe, “Jiwa manusia menjadi matang dalam air mata”. Betul, karena berbagai cobaan tersebut jiwa Bung Karno semakin matang dalam kedukaan.
Suasana kejiwaan seperti itu bertautan dengan perjumpaanya dengan berbagai tokoh lintas agama. Ketika KH. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya.
Dalam kesempatan lain Bung Karno berjumpa dengan seorang Pastor bernama Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun beliau berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang ‘digambarkan’ sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno ragu, “Katanya Tuhan itu kebesaranya tak terbatas, tetapi kenapa oleh Sang Pastor dibataskan kepada apa yang baik saja, sedangkan yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok.” Dengan kesal, namaun tetap dalam ekspresi cinta, Pastor itu pun berseloroh, “Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, “Tuhan akan mengampuni saya.”
Dalam pencarian berikutnya, Bung Karno sering mengunjungi kampung-kampung
Pencarian mengantarkanya pada buku-buku Hinduisme dan Buddhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927 membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Soekarno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tak pernah cepat puas. Ia pun berseru, “Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisny
Bung Karno pun menjadi lelah, tak kunjung menemukan yang dicari. Ia lupa kata-kata Goethe, “Siapa yang masih berdaya, tandanya ia masih kesasar.” Dalam kepasrahannya, tiba-tiba “DIA” hadir. Tuhan datang sendiri, saat terlintas dikepalanya: “Siapakah yang mengatur perjodohan antara ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Bali? Kalau ayahnya tidak dikirim sebagai guru ke Bali, niscaya tidak terjadi perjodohan itu. Siapa yang mengirim ayahnya ke sana? Pemerintah Kolonial Belanda, tapi apakah pemerintah mempunyai maksud supaya ayahnya bertemu dengan sang ibu? Tidak, sama sekali tidak. Nah di sini lantas ketemu, bahwa DIA yang mengatur.” Sekalipun pencarian spiritualnya masih jauh dari kata akhir, setidaknya sekarang Bung Karno merasa lebih tenang karena sudah menemukan keyakinan akan adanya Dia yang menjadikan segalanya.
Proses Bung Karno menemukan keyakinan ketuhanan dan keagamaanya itu menemukan momen pematanganya saat dia dipenjara dan diasingkan. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam di penjara, barulah menurutnya “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh
Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dibawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Salam Hangat Bidang Intelektual Pemuda Nusantara (PENA)
Sowan Pemuda ke Komunitas CCE
![]() |
| Foto bersama dengan Komunitas CCE (dok.Pena) |

