About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Sabtu, 23 April 2016

Sowan Pemuda Nusantara: Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ


Sabtu, 23 April 2016 Divisi Sosial Pemuda Nusantara kembali menggelar program Sowan Pemuda ke tokoh-tokoh nasional dan komunitas-komunitas yang sinergi dengan visi dan misi Pemuda Nusantara. Kali ini, tokoh nasional yang dikunjungi oleh tim Sowan PENA adalah Prof. Dr. Romo Franz Magnis-Suseno.


Tim sowan PENA yang berpartisipasi dalam kegiatan hari ini adalah Amar, Muhammad, NIsa, Arnida dan Andri. Tim sowan berangkat dari Fatmawati dan sampai di kantor Romo Magnis (panggilan akrab Franz Magnis-Suseno) yang terletak di dalam kompleks STF Driyarkara Jl. Cempaka Indah, Rawasari pada pukul 15.16.

Setibanya STF Driyarkara, beliau langsung menyambut kami dengan hangat di kantornya. Kesan pertama kami tentang beliau adalah: orang yang tetap enerjik walau berada di umur senja. Selain itu beliau juga orang yang rendah hati dalam sikap dan tutur kata sekalipun beliau adalah tokoh nasional dengan sederet prestasi. Bahkan sampai sekarang beliau masih produktif sebagai penulis dan pembicara, “Saya selalu menulis, entah itu menulis makalah, menulis untuk media atau menulis buku. Bagi saya, menulis adalah kegiata yang tidak ada habisnya,” kata beliau dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Kami berbincang banyak hal, mulai dari aktifitas sehari-hari yang sedang beliau geluti saat ini hingga problematika nasional yang sedang menimpa negeri ini. Diantaranya beliau mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan adanya pendidikan karakter. Khusunya untuk para pemuda. Beliau menjelaskan betapa pentingnya pendidikan karakter bagi para pemuda. “Karena suatu saat kalianlah (para pemuda) yang akan memimpin bangsa ini. Karenanya kalian harus berkarakter, berpendirian, wani (berani –jawa) mengutarakan pendapat, wani mengambil sikap, wani mempertanyakan serta berorientasi maju,” tegas beliau

Kami berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam. Kami mendapat banyak sekali wawasan kebangsaan serta pelajaran dan pengalaman berharga. Diantaranya yang paling berkesan bagi kami adalah tentang hidup sederhana dan mengabdi pada Tuhan. Beliau biasa berjalan kaki dari kantor ke rumahnya yang sebenarnya tidak bisa dibilang dekat untuk orang seusia beliau (79 tahun). Beliau sangat dikenal di lingkungan kehidupannya. Terutama di kalangan anak-anak, beliau sangat populer karena memiliki kekhasan sebagai seorang ‘meester’. “Anak-anak itu selalu menyapa saya ‘mister-mister!’ ketika saya lewat. Sayapun membalas mereka dengan ramah, anak-anak itu lucu sekali,” kemudian kami tertawa bersama.

Sebagai seorang pastor, beliau tidak berkeluarga. Satu-satunya keluarga yang dimiliknya adalah keempat adiknya yang sedang berada di Jerman. Sedang di Indonesia keluarga yang dimilikinya adalah orang-orang yang tergabung dalam yayasan Driyarkara, baik kampus maupun gereja. “Setiap honor yang saya terima itu langsung masuk kedalam rekening yayasan. Saya sendiri? Saya tidak punya rekening. Saya hanya mengambil jika saya butuh. Lagipula kami selalu sarapan pagi dan makan malam bersama di gereja, jadi saya tidak terlalu memerlukannya, apalagi makan siang. Saya tidak butuh makan siang,” tegas beliau.

Selain itu beliau berpesan agar kita semua selalu memperhatikan kemiskinan dan orang-orang kecil. “Ini juga merupakan problem bangsa. Kita tidak boleh mengabaikan rakyat kecil, kita harus selalu memihak kepada mereka, baru-baru ini juga saya menulis tentang penggusuran di salah satu media cetak,” kata beliau. “..selalu berpihak kepada rakyat kecil,” lanjutnya.


Pertemuan kami dengan Romo Magnis diakhiri dengan pemberian cinderamata dari tim sowan PENA dan foto bersama. Tak lupa kami juga meminta kesediaan Romo Magnis untuk diundang dalam acara-acara yang akan diadakan PENA dalam bulan-bulan mendatang.  Beliau mengatakan bahwa selama tidak ada kesibukan dan halangan beliau sanggup memenuhi undangan dari Pemuda Nusantara. []

            

Sabtu, 02 April 2016

Sruput Makna: Berkawan dengan Kesulitan

Di balik Kesulitan Ada Kemudahan.

Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan, benar-benar selalu ada kemudahan. Jika telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap (al-Insyirah: 1-8).

Ayat “bersama kesulitan selalu ada kemudahan” bisa pula dipahami “kebahagiaan selalu ada bersama penderitaan”.

Mengapa dalam ayat tersebut, Allah mendahulukan kesulitan atau penderitaan ketimbang kemudahan atau kebahagiaan? Apa yang bisa kita pelajari dari penempatan seperti itu?
Barangkali sudah menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memperhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan, something wrong lebih mengalihkan perhatian daripada something right. Dalam bahasa bisnis media massa: bad news is good news. Sebuah gigi yang sakit akan lebih diperhatikan daripada sekian gigi yang sehat. Satu anggota badan yang sakit akan lebih menyita perhatian daripada anggota-anggota badan lain yang tak sakit. Bisa disebutkan sekian contoh bagaimana kita pernah mengalami penderitaan dan kesulitan. Begitu menyita perhatian, terkadang penderitaan dan kesulitan membuat orang berputus asa, merasa hidupnya sempit dan buntu.

Dengan ayat itu, Allah hendak mengatakan bahwa kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan. Bahkan, Allah perlu mengatakan itu dengan kalimat-kalimat penegasan. Dalam redaksi ayatnya, kita lihat ada dua tanda penegasan: pertama kata Inna yang diartikan sungguh atau benar-benar. Yang kedua adalah pengulangan kalimat bersama kesulitan akan ada kemudahan. Penegasan itu meyakinkan agar seseorang selalu optimis dan tak sepatutnya larut dalam duka
musibah dan bencana.

Surat alam nasyrah ini juga disebut dengan al-Insyirah, yang berarti kelapangan hati atau kebahagiaan. Orang bahagia itu berhati lapang, sebab beban-beban di hatinya telah hilang.
Salam Hangat, Bidang Intelektual Komunitas Pemuda Nusantara.

Sruput Makna: Belajar dari Bung Karno

Meniti Jejak Soekarno dalam Pengalaman Menemukan Tuhan

Siapa yang tak megenal Ir. Soekarno, Pria ini tidak saja popular dan dikagumi di Indonesia, tapi juga namanya banyak dikenal di berbagai belahan dunia sebagai seorang orator ulung, pejuang revolusi, dan peletak dasar nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia. Bung Karno (sapaan akrab Soekarno) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 06 Juni 1901. Sebagai seorang pemuda yang lahir dari rahim ibu pertiwi dan diberikan kesempatan untuk memimpin bangsa Indonesia selama 21 tahun, beliau begitu menunjukkan kecintaanya terhadap negri ini dalam bentuk pengabdian, sumbangsih gagasan, serta penghargaanya terhadap persatuaan dan kemanusiaan.

Dalam salah satu pidatonya Bung Karno menyampaikan bahwa “Tuhan memberikan kepada saya satu kali kehidupan, dan kehidupan yang hanya sekali ini, 100 persen saya berikan hidup ini kepada Indonesia. Andai Tuhan berikan saya dua kali kehidupan, maka 200 persen hidup saya saya berikan untuk Indonesia”.
Bung Karno adalah tipe orang yang tidak mudah puas, penuh keraguan, selalu mencari kebenaran dan memiliki penghayatan yang luar biasa. Sifat-sifat tersebut terlihat dari kisah beliau dalam menitih perjalananya menemukan Tuhan. Kisah yang jarang kita temukan di buku-buku sejarah ataupun cerita guru dan masyarakat tentang beliau.

Bung Karno mendekati Tuhan dengan mencoba masuk dari berbagai jalan. Ia berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Dalam pengakuanya beliau mengatakan bahwa “kakeknya menanamkan pada dirinya kebudayaan jawa dan mistik. Ayahnya teosofi dan Islamisme. Ibunya Hinduisme dan Buddishme.” Pengenalanya pada Islam semakin mendalam ketika ia tinggal di rumah Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya.

Pada Pertengahan 1920-an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuatnya semakin mendekat kepada Tuhan. Seperti dalam pengakuanya:
“Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di Negri kami sebagian besar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan, selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju pada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Mahakuasa sebagai Tuhan personal”.

Berbagai cobaan hidup yang menimpa diri Bung Karno, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih sensitif terhadap ketuhanan. Dalam ungkapan Im Yang Tjoe, “Jiwa manusia menjadi matang dalam air mata”. Betul, karena berbagai cobaan tersebut jiwa Bung Karno semakin matang dalam kedukaan.

Suasana kejiwaan seperti itu bertautan dengan perjumpaanya dengan berbagai tokoh lintas agama. Ketika KH. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya. Bermula dari diskusi mengenai pergerakan nasional, lalu mengerucut pada soal agama dan Allah, yang menjadi keahlian Agoes Salim. Sebuah momen kebetulan bagi Bung Karno yang jiwanya sedang haus akan siraman rohani. Setelah uraian dan pertukaran pandangan mengenai segi-segi ketuhanan hingga larut malam, apa yang menjadi pemahaman Salim tidak selalu cocok dengan dengan jalan pikiran Bung Karno. “Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang tuan (Agoes Salim) ‘gambarkan’ itu tidak cocok dengan pendapat saya,” Ujar Bung Karno sambil berpamitan pulang. H. Agoes Salim pun tersenyum dan geleng-geleng kepala sendirian, seraya berkata “Ah, anak muda kepala batu, tapi saya doakan mudah-mudahan Allah Swt akan menerangi pikiranmu.”

Dalam kesempatan lain Bung Karno berjumpa dengan seorang Pastor bernama Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun beliau berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang ‘digambarkan’ sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno ragu, “Katanya Tuhan itu kebesaranya tak terbatas, tetapi kenapa oleh Sang Pastor dibataskan kepada apa yang baik saja, sedangkan yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok.” Dengan kesal, namaun tetap dalam ekspresi cinta, Pastor itu pun berseloroh, “Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, “Tuhan akan mengampuni saya.”

Dalam pencarian berikutnya, Bung Karno sering mengunjungi kampung-kampung dan gang-gang kumuh untuk mencari Tuhan seperti yang dilukiskan oleh Tolstoy, bahwa tuhan berada di tempat-tempat yang penuh debu. Tentang hal ini, Bung Karno punya ungkapan yang amat menyentuh, “Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Meski begitu, dahaganya akan Tuhan belum juga terpuaskan.

Pencarian mengantarkanya pada buku-buku Hinduisme dan Buddhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927 membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Soekarno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tak pernah cepat puas. Ia pun berseru, “Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisnya manusia dari satu badan ke lain badan, dari satu penghidupan ke lain penghidupan, yah, boleh jadi. Tapi di sini masih ada satu pertanyaan: ‘kalau manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan dosanya, pertanyaanya adalah apakah manusia mempunyai DIRI-nya sendiri? Ah, tidak, tidak. Ini belum memuaskan.”

Bung Karno pun menjadi lelah, tak kunjung menemukan yang dicari. Ia lupa kata-kata Goethe, “Siapa yang masih berdaya, tandanya ia masih kesasar.” Dalam kepasrahannya, tiba-tiba “DIA” hadir. Tuhan datang sendiri, saat terlintas dikepalanya: “Siapakah yang mengatur perjodohan antara ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Bali? Kalau ayahnya tidak dikirim sebagai guru ke Bali, niscaya tidak terjadi perjodohan itu. Siapa yang mengirim ayahnya ke sana? Pemerintah Kolonial Belanda, tapi apakah pemerintah mempunyai maksud supaya ayahnya bertemu dengan sang ibu? Tidak, sama sekali tidak. Nah di sini lantas ketemu, bahwa DIA yang mengatur.” Sekalipun pencarian spiritualnya masih jauh dari kata akhir, setidaknya sekarang Bung Karno merasa lebih tenang karena sudah menemukan keyakinan akan adanya Dia yang menjadikan segalanya.

Proses Bung Karno menemukan keyakinan ketuhanan dan keagamaanya itu menemukan momen pematanganya saat dia dipenjara dan diasingkan. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam di penjara, barulah menurutnya “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar.” Berikut beliau menuturkan hasil permenunganya:
Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dibawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Salam Hangat Bidang Intelektual Pemuda Nusantara (PENA)

Sowan Pemuda ke Komunitas CCE



Duta Afendi (sweater merah) sedang mendongeng di aula CCE (dok.Pena)

Salah satu program rutin devisi sosial PENA adalah Sowan Pemuda. Sowan Pemuda adalah kegiatan kunjungan ke berbagai tokoh atau komunitas yang memiliki visi dan misi yang senada dengan komunitas PENA untuk membangun sinergitas dan saling berbagi pengalaman. Pada hari Jum’at, 26 Maret 2016 pukul 10.30 sampai 14.30 WIB diadakan kunjungan ke komunitas CCE (Charity of Children Education). Sowan kali ini dilakukan oleh duta Mahdi, Bagir, Ahmed, Afendi, Ain, Bela, Mela, Zainab dan Nadhira. Dalam kegiatan sowan ini, para duta bertemu dengan para volunteer komunitas CCE, diantaranya Kak Dwi, Kak Risma, Kak Dewi, dll.

Komunitas CCE adalah sebuah komunitas yang terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Jabodetabek yang peduli terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2012, berawal dari kepedulian para mahasiswa yang terbentuk dalam komunitas entrepreneur yang ingin membeli botol bekas ke kampung pemulung di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Niat mereka yang hanya ingin membeli botol bekas berubah menjadi gerakan sosial untuk membantu permasalahan pendidikan di kampung pemulung tersebut. Kepedulian mereka muncul ketika mendatangi langsung perkampungan tersebut. Disana mereka “dicurhati” oleh warga sekitar tentang anak-anak mereka yang banyak putus sekolah, dan sulit mengenyam pendidikan.

Di tahun ini, komunitas CCE di daerah Kebagusan ini sudah memiliki sekitar 30 adik asuh dari usia 4-15 tahun. Mereka memiliki sebuah basecamp tempat menyimpan barang-barang dan buku-buku serta satu petak ruangan yang dijadikan sebagai aula. Selain kelas belajar di Kebagusan, mereka juga memiliki kelas cabang di daerah lain, seperti Pejaten, Cilandak dan Jatayu. Tujuan kegiatan Sowan Pemuda sendiri yaitu membangun relasi serta belajar dari pengalaman target. Kami pun mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana membangun sebuah gerakan peduli pendidikan seperti yang dilakukan oleh komunitas ini. 

Foto bersama dengan Komunitas CCE (dok.Pena)
Setelah berbincang-bincang dengan kakak-kakak asuh CCE, kami menunaikan sholat Jum’at di masjid terdekat. Setelah sholat Jum’at, kami mengadakan kegiatan dengan adik-adik asuh CCE.  Kegiatan ini dipandu oleh duta Mela, yang dimulai dengan sesi perkenalan, baik dari adik-adik asuh maupun dari duta-duta PENA. Setelah itu, ada duta Efendi yang menceritakan beragam dongeng dan kisah-kisah Nabi. Lalu adik-adik diminta untuk menyampaikan pesan dari dongeng dan kisah-kisah yang telah diceritakan. Kegiatan bersama anak-anak ini dimulai sejak pukul 13.00 sampai 14.30 dan berlangsung dengan sangat hangat dan antusias. Di akhir kunjungan kami ini, kami memberikan cinderamata kepada kakak-kakak asuh CCE dan diakhiri dengan foto bersama.

Cinderamata yang kami berikan adalah sebuah sebuah poster bertuliskan kalimat sederhana dari Malala Yousafzai, peraih nobel perdamaian termuda. “With guns, you can kill terorists. With education, you can kill terorism.” Kalimat ini menyatakan betapa pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Beruntunglah bagi kita yang masih bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Dan merupakan tanggung jawab kita untuk saling bahu membahu mewujudkan pendidikan yang layak bagi setiap anak bangsa.

Dari kunjungan ke komunitas ini, para duta PENA belajar banyak hal. Seperti yang dikatakan oleh kakak-kakak asuh CCE, “ada suka-dukanya”. Ruang belajar yang diterjang banjir, bahkan digusur pun sudah pernah mereka rasakan selama ini. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus mengulur tangan. “Anak-anak pemulung itu adalah adik-adik kita” itulah motivasi yang tersimpan dibalik kegigihan mereka sampai saat ini. Selain itu, dengan berinteraksi langsung di lingkungan “kumuh” tersebut, jiwa kita  menjadi jiwa yang menghargai setiap hal yang kita miliki, baik makanan, rumah, apalagi pendidikan.

Selain mendapat pengalaman dari komunitas CCE, para duta juga berharap dapat bekerjasama di lain kesempatan. Seperti jika PENA ingin mengadakan kegiatan sosial bisa mengundang kakak asuh CCE untuk berpartisipasi, begitu pun sebaliknya. Semoga komunitas ini dapat menjadi inspirasi bagi para duta untuk bergerak membantu sesama. [Bbd/12]