apa yang anda cari?

About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label Intelektual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intelektual. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

Sruput Makna: Berkawan dengan Kesulitan

Di balik Kesulitan Ada Kemudahan.

Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan, benar-benar selalu ada kemudahan. Jika telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap (al-Insyirah: 1-8).

Ayat “bersama kesulitan selalu ada kemudahan” bisa pula dipahami “kebahagiaan selalu ada bersama penderitaan”.

Mengapa dalam ayat tersebut, Allah mendahulukan kesulitan atau penderitaan ketimbang kemudahan atau kebahagiaan? Apa yang bisa kita pelajari dari penempatan seperti itu?
Barangkali sudah menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memperhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan, something wrong lebih mengalihkan perhatian daripada something right. Dalam bahasa bisnis media massa: bad news is good news. Sebuah gigi yang sakit akan lebih diperhatikan daripada sekian gigi yang sehat. Satu anggota badan yang sakit akan lebih menyita perhatian daripada anggota-anggota badan lain yang tak sakit. Bisa disebutkan sekian contoh bagaimana kita pernah mengalami penderitaan dan kesulitan. Begitu menyita perhatian, terkadang penderitaan dan kesulitan membuat orang berputus asa, merasa hidupnya sempit dan buntu.

Dengan ayat itu, Allah hendak mengatakan bahwa kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan. Bahkan, Allah perlu mengatakan itu dengan kalimat-kalimat penegasan. Dalam redaksi ayatnya, kita lihat ada dua tanda penegasan: pertama kata Inna yang diartikan sungguh atau benar-benar. Yang kedua adalah pengulangan kalimat bersama kesulitan akan ada kemudahan. Penegasan itu meyakinkan agar seseorang selalu optimis dan tak sepatutnya larut dalam duka
musibah dan bencana.

Surat alam nasyrah ini juga disebut dengan al-Insyirah, yang berarti kelapangan hati atau kebahagiaan. Orang bahagia itu berhati lapang, sebab beban-beban di hatinya telah hilang.
Salam Hangat, Bidang Intelektual Komunitas Pemuda Nusantara.

Sruput Makna: Belajar dari Bung Karno

Meniti Jejak Soekarno dalam Pengalaman Menemukan Tuhan

Siapa yang tak megenal Ir. Soekarno, Pria ini tidak saja popular dan dikagumi di Indonesia, tapi juga namanya banyak dikenal di berbagai belahan dunia sebagai seorang orator ulung, pejuang revolusi, dan peletak dasar nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia. Bung Karno (sapaan akrab Soekarno) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 06 Juni 1901. Sebagai seorang pemuda yang lahir dari rahim ibu pertiwi dan diberikan kesempatan untuk memimpin bangsa Indonesia selama 21 tahun, beliau begitu menunjukkan kecintaanya terhadap negri ini dalam bentuk pengabdian, sumbangsih gagasan, serta penghargaanya terhadap persatuaan dan kemanusiaan.

Dalam salah satu pidatonya Bung Karno menyampaikan bahwa “Tuhan memberikan kepada saya satu kali kehidupan, dan kehidupan yang hanya sekali ini, 100 persen saya berikan hidup ini kepada Indonesia. Andai Tuhan berikan saya dua kali kehidupan, maka 200 persen hidup saya saya berikan untuk Indonesia”.
Bung Karno adalah tipe orang yang tidak mudah puas, penuh keraguan, selalu mencari kebenaran dan memiliki penghayatan yang luar biasa. Sifat-sifat tersebut terlihat dari kisah beliau dalam menitih perjalananya menemukan Tuhan. Kisah yang jarang kita temukan di buku-buku sejarah ataupun cerita guru dan masyarakat tentang beliau.

Bung Karno mendekati Tuhan dengan mencoba masuk dari berbagai jalan. Ia berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Dalam pengakuanya beliau mengatakan bahwa “kakeknya menanamkan pada dirinya kebudayaan jawa dan mistik. Ayahnya teosofi dan Islamisme. Ibunya Hinduisme dan Buddishme.” Pengenalanya pada Islam semakin mendalam ketika ia tinggal di rumah Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya.

Pada Pertengahan 1920-an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuatnya semakin mendekat kepada Tuhan. Seperti dalam pengakuanya:
“Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di Negri kami sebagian besar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan, selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju pada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Mahakuasa sebagai Tuhan personal”.

Berbagai cobaan hidup yang menimpa diri Bung Karno, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih sensitif terhadap ketuhanan. Dalam ungkapan Im Yang Tjoe, “Jiwa manusia menjadi matang dalam air mata”. Betul, karena berbagai cobaan tersebut jiwa Bung Karno semakin matang dalam kedukaan.

Suasana kejiwaan seperti itu bertautan dengan perjumpaanya dengan berbagai tokoh lintas agama. Ketika KH. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya. Bermula dari diskusi mengenai pergerakan nasional, lalu mengerucut pada soal agama dan Allah, yang menjadi keahlian Agoes Salim. Sebuah momen kebetulan bagi Bung Karno yang jiwanya sedang haus akan siraman rohani. Setelah uraian dan pertukaran pandangan mengenai segi-segi ketuhanan hingga larut malam, apa yang menjadi pemahaman Salim tidak selalu cocok dengan dengan jalan pikiran Bung Karno. “Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang tuan (Agoes Salim) ‘gambarkan’ itu tidak cocok dengan pendapat saya,” Ujar Bung Karno sambil berpamitan pulang. H. Agoes Salim pun tersenyum dan geleng-geleng kepala sendirian, seraya berkata “Ah, anak muda kepala batu, tapi saya doakan mudah-mudahan Allah Swt akan menerangi pikiranmu.”

Dalam kesempatan lain Bung Karno berjumpa dengan seorang Pastor bernama Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun beliau berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang ‘digambarkan’ sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno ragu, “Katanya Tuhan itu kebesaranya tak terbatas, tetapi kenapa oleh Sang Pastor dibataskan kepada apa yang baik saja, sedangkan yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok.” Dengan kesal, namaun tetap dalam ekspresi cinta, Pastor itu pun berseloroh, “Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, “Tuhan akan mengampuni saya.”

Dalam pencarian berikutnya, Bung Karno sering mengunjungi kampung-kampung dan gang-gang kumuh untuk mencari Tuhan seperti yang dilukiskan oleh Tolstoy, bahwa tuhan berada di tempat-tempat yang penuh debu. Tentang hal ini, Bung Karno punya ungkapan yang amat menyentuh, “Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Meski begitu, dahaganya akan Tuhan belum juga terpuaskan.

Pencarian mengantarkanya pada buku-buku Hinduisme dan Buddhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927 membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Soekarno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tak pernah cepat puas. Ia pun berseru, “Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisnya manusia dari satu badan ke lain badan, dari satu penghidupan ke lain penghidupan, yah, boleh jadi. Tapi di sini masih ada satu pertanyaan: ‘kalau manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan dosanya, pertanyaanya adalah apakah manusia mempunyai DIRI-nya sendiri? Ah, tidak, tidak. Ini belum memuaskan.”

Bung Karno pun menjadi lelah, tak kunjung menemukan yang dicari. Ia lupa kata-kata Goethe, “Siapa yang masih berdaya, tandanya ia masih kesasar.” Dalam kepasrahannya, tiba-tiba “DIA” hadir. Tuhan datang sendiri, saat terlintas dikepalanya: “Siapakah yang mengatur perjodohan antara ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Bali? Kalau ayahnya tidak dikirim sebagai guru ke Bali, niscaya tidak terjadi perjodohan itu. Siapa yang mengirim ayahnya ke sana? Pemerintah Kolonial Belanda, tapi apakah pemerintah mempunyai maksud supaya ayahnya bertemu dengan sang ibu? Tidak, sama sekali tidak. Nah di sini lantas ketemu, bahwa DIA yang mengatur.” Sekalipun pencarian spiritualnya masih jauh dari kata akhir, setidaknya sekarang Bung Karno merasa lebih tenang karena sudah menemukan keyakinan akan adanya Dia yang menjadikan segalanya.

Proses Bung Karno menemukan keyakinan ketuhanan dan keagamaanya itu menemukan momen pematanganya saat dia dipenjara dan diasingkan. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam di penjara, barulah menurutnya “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar.” Berikut beliau menuturkan hasil permenunganya:
Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dibawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Salam Hangat Bidang Intelektual Pemuda Nusantara (PENA)

Jumat, 11 Maret 2016

Sruput Makna: Cara Nikmat Menyesap Sebuah Makna



Belajar dari Hatta 

Bung Hatta, demikian sapaan akrab sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Pria yang bernama asli Mohammad Athar ini lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus 1902. 

Bung Hatta adalah tokoh yang dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dan wawasan yang sangat luas. Bagaimana tidak, hampir sepanjang hidupnya dihabiskan untuk bergelut dengan buku.
Baginya membaca adalah bernafas, tanpa membaca manusia akan sesak lalu mati tanpa makna. Terkait Hatta dan buku, ada sebuah kisah parody menarik dan lucu yang menggambarkan keduanya, kisah itu terkenal dengan judul 16 Peti Buku. 
Bung Hatta (source:profil.merdeka.com)

Kisah yang menceritakan tentang 16 peti buku koleksinya yang ia bawa dari Belanda, lalu ke Jakarta, diangkut lagi ke Boven Digul ketika dibuang ke sana, masih tak luput dibawa ketika dipindah-buangkan ke Banda Neira, kembali lagi ke Jakarta, dan kemudian ke Bangka.
Saking banyaknya, ketika baru tiba di Digul, teman sesama buangan, Moh. Bondan namanya, sampai tak tahan berseru: “Anda ke sini dibuang atau mau buka toko buku?” 16 peti buku! Jangan berani ceramahi Bung Hatta soal berpergian enteng. 

Bung Hatta juga dikenal karena hidupnya yang sangat sederhana dan berprinsip bahwa takwa harus memancar dalam tindakan. Ketakwaan beliau membuatnya menjadi pribadi yang amanah, jujur, dan bersih.
Semasa menjababat sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta mempunyai sebuah keinginan, beliau ingin memiliki sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Sepatu Bally adalah sebuah merek sepatu bermutu tinggi yang diinginkan banyak orang, termasuk Bung Hatta. 

Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. 

Padahal dengan status Wakil Presiden, mestinya bukan hal yang sulit bagi Bung Hatta untuk memanfaatkan posisinya tersebut agar dapat memiliki sepatu idamanya. Dia bisa meminta dibelikan oleh para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalanya, bahkan bisa saja mengambil dan menggunakan sisa dana taktis Wakil Presiden yang sebesar Rp. 25.000, pada masa itu uang dengan nominal tersebut sangat besar.
Namun bukan menggunakan uang tersebut, Bung Hatta malah meminta kepada bawahanya untuk mengembalikan dana taktis tersebut kepada Negara, Bagi Bung Hatta dana tersebut tetap bukan haknya dan suatu saat Negara. 

Alhasil hingga akhir hayatnya, pada tanggal 14 Maret 1980 beliau tidak kesampaian memenuhi keinginan sederhanaya memiliki sepatu Bally. Dan yang lebih mengharukan, guntingan gambar iklan sepatu tersebut masih tertempel didinding kamar sang guru bangsa Mohammad Hatta.
Begitu banyak pelajaran yang dapat digali serta begitu luas nilai-nilai yang dapat menginspirasi anak-anak bangsa dari hidup Bung Hatta, semoga kita dapat menggenggamnya dan ikut mengamalkanya. 

Salam Hangat, Divisi Intelektual Komunitas Pemuda Nusantara (PENA)
Top of Form
Bottom of Form
 Sruput Makna adalah artikel pendek inspiratif yang dikelola oleh div. Intelektual komunitas Pemuda Nusantara dan menjadi salah satu program rutin mingguan div. Intelektual.