
Sabtu,
23 April 2016 Divisi Sosial Pemuda Nusantara kembali menggelar program Sowan
Pemuda ke tokoh-tokoh nasional dan komunitas-komunitas yang sinergi dengan visi
dan misi Pemuda Nusantara. Kali ini, tokoh nasional yang dikunjungi oleh tim
Sowan PENA adalah Prof. Dr. Romo Franz Magnis-Suseno.
Tim
sowan PENA yang berpartisipasi dalam kegiatan hari ini adalah Amar, Muhammad,
NIsa, Arnida dan Andri. Tim sowan berangkat dari Fatmawati dan sampai di kantor
Romo Magnis (panggilan akrab Franz Magnis-Suseno) yang terletak di dalam
kompleks STF Driyarkara Jl. Cempaka Indah, Rawasari pada pukul 15.16.
Setibanya
STF Driyarkara, beliau langsung menyambut kami dengan hangat di kantornya.
Kesan pertama kami tentang beliau adalah: orang yang tetap enerjik walau berada
di umur senja. Selain itu beliau juga orang yang rendah hati dalam sikap dan
tutur kata sekalipun beliau adalah tokoh nasional dengan sederet prestasi. Bahkan
sampai sekarang beliau masih produktif sebagai penulis dan pembicara, “Saya
selalu menulis, entah itu menulis makalah, menulis untuk media atau menulis
buku. Bagi saya, menulis adalah kegiata yang tidak ada habisnya,” kata beliau
dengan bahasa Indonesia yang fasih.
Kami
berbincang banyak hal, mulai dari aktifitas sehari-hari yang sedang beliau geluti
saat ini hingga problematika nasional yang sedang menimpa negeri ini. Diantaranya
beliau mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan adanya pendidikan karakter.
Khusunya untuk para pemuda. Beliau menjelaskan betapa pentingnya pendidikan
karakter bagi para pemuda. “Karena suatu saat kalianlah (para pemuda) yang akan
memimpin bangsa ini. Karenanya kalian harus berkarakter, berpendirian, wani
(berani –jawa) mengutarakan pendapat, wani mengambil sikap, wani mempertanyakan
serta berorientasi maju,” tegas beliau
Kami
berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam. Kami mendapat banyak sekali
wawasan kebangsaan serta pelajaran dan pengalaman berharga. Diantaranya yang
paling berkesan bagi kami adalah tentang hidup sederhana dan mengabdi pada
Tuhan. Beliau biasa berjalan kaki dari kantor ke rumahnya yang sebenarnya tidak
bisa dibilang dekat untuk orang seusia beliau (79 tahun). Beliau sangat dikenal
di lingkungan kehidupannya. Terutama di kalangan anak-anak, beliau sangat
populer karena memiliki kekhasan sebagai seorang ‘meester’. “Anak-anak itu
selalu menyapa saya ‘mister-mister!’ ketika saya lewat. Sayapun membalas mereka
dengan ramah, anak-anak itu lucu sekali,” kemudian kami tertawa bersama.
Sebagai
seorang pastor, beliau tidak berkeluarga. Satu-satunya keluarga yang dimiliknya
adalah keempat adiknya yang sedang berada di Jerman. Sedang di Indonesia
keluarga yang dimilikinya adalah orang-orang yang tergabung dalam yayasan
Driyarkara, baik kampus maupun gereja. “Setiap honor yang saya terima itu
langsung masuk kedalam rekening yayasan. Saya sendiri? Saya tidak punya
rekening. Saya hanya mengambil jika saya butuh. Lagipula kami selalu sarapan
pagi dan makan malam bersama di gereja, jadi saya tidak terlalu memerlukannya,
apalagi makan siang. Saya tidak butuh makan siang,” tegas beliau.
Selain
itu beliau berpesan agar kita semua selalu memperhatikan kemiskinan dan
orang-orang kecil. “Ini juga merupakan problem bangsa. Kita tidak boleh
mengabaikan rakyat kecil, kita harus selalu memihak kepada mereka, baru-baru
ini juga saya menulis tentang penggusuran di salah satu media cetak,” kata
beliau. “..selalu berpihak kepada rakyat kecil,” lanjutnya.
Pertemuan kami dengan Romo Magnis diakhiri dengan pemberian cinderamata dari tim sowan PENA dan foto bersama. Tak lupa kami juga meminta kesediaan Romo Magnis untuk diundang dalam acara-acara yang akan diadakan PENA dalam bulan-bulan mendatang. Beliau mengatakan bahwa selama tidak ada kesibukan dan halangan beliau sanggup memenuhi undangan dari Pemuda Nusantara. []
0 komentar
Posting Komentar