apa yang anda cari?

About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

Gerakan Anti Amnesia Buku


 Dengan memperhatikan rendahnya minat baca anak – anak di Indonesia, pada hari Sabtu, 24 September 2016 Komunitas Pemuda Nusantara (PENA) bermitra dengan Dana Mustadhafin mengadakan sebuah program yakni Gerakan Anti Amnesia Buku yang bertemakan “Membaca Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Program tersebut bertujuan untuk melawan rendahnya minat baca anak – anak, dengan cara menggugah kesadaran masyarakat serta memfasilitasi buku - buku yang dibutuhkan.

Pada kesempatan kali ini Kegiatan diselenggarakan di laboratorium Taman Teknologi Pertanian dan Peternakan, Desa Cigombong, Kabupaten Bogor. Alasan dipilihnya lokasi tersebut adalah bentuk apresiasi seseorang yang bernama Dedeh Zainab, dengan keiklasannya membimbing anak – anak sekitarnya dengan mengoptimalkan perpustakaan di laboraturiun agar anak – anak gemar membaca. Ada sekitar 60 anak – anak mulai dari TK sampai dengan SMP yang menjadi binaannya. Selain memotivasi untuk gemar membaca, anak – anak juga mendapatkan beberapa materi. Antara lain materi yang diberikan adalah : pendidikan akhlak, agama, mengaji alqur’an, tata cara wudhu, tata cara shalat, sejarah para Nabi dan Rasul dll dan pembinaan dilakukan selepas anak – anak pulang sekolah.

Panitia berangkat dari Jakarta yang terdiri dari Komunitas PENA (Pemudan Nusantara) dan Dana Mustadhafin yang berjumlah 20 orang, kebanyakan panitia adalah para mahasiswa. Tiba di lokasi rombongan langsung disambut oleh Ibu Dedeh Zainab sebagai Manager laboratorium serta anak – anak binaanya. Setelah diawali perkenalan dengan anak – anak, kemudian panitia program Gerakan Amnesia Buku membagi para peserta menjadi beberapa kelompok, dan tiap kelompok mempunyai seorang mentor.
 

Selanjutnya panitia melombakan setiap kelompok untuk berkompetisi dengan didampingi para mentor, perlombaannya antara lain adalah menyusun kata – kata, kuis cerdas cermat, membuat yel-yel yang menginspirasi dan menontn film dokumenter. Perlombaan tersebut bertujuan untuk mendorong kreatifitas dan pengetahuan anak-anak. Setelah lomba, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama-sama untuk meningkatkan keakraban dan rasa kekeluargaan dengan seluruh peserta.

Acara ditutup dengan pemberian hadiah bagi para pemenang serta pemberian buku kepada seluruh anak-anak serta sumbangan buku untuk koleksi perpustakaan. Bu Dedeh Zainab dalam sambutan penutupnya menyampaikan terima kasihnya kepada panitia atas inisiatifnya membuat kegiatan seperti ini dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkesinambungan dan berkelanjutan.



Sabtu, 23 April 2016

Sowan Pemuda Nusantara: Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ


Sabtu, 23 April 2016 Divisi Sosial Pemuda Nusantara kembali menggelar program Sowan Pemuda ke tokoh-tokoh nasional dan komunitas-komunitas yang sinergi dengan visi dan misi Pemuda Nusantara. Kali ini, tokoh nasional yang dikunjungi oleh tim Sowan PENA adalah Prof. Dr. Romo Franz Magnis-Suseno.


Tim sowan PENA yang berpartisipasi dalam kegiatan hari ini adalah Amar, Muhammad, NIsa, Arnida dan Andri. Tim sowan berangkat dari Fatmawati dan sampai di kantor Romo Magnis (panggilan akrab Franz Magnis-Suseno) yang terletak di dalam kompleks STF Driyarkara Jl. Cempaka Indah, Rawasari pada pukul 15.16.

Setibanya STF Driyarkara, beliau langsung menyambut kami dengan hangat di kantornya. Kesan pertama kami tentang beliau adalah: orang yang tetap enerjik walau berada di umur senja. Selain itu beliau juga orang yang rendah hati dalam sikap dan tutur kata sekalipun beliau adalah tokoh nasional dengan sederet prestasi. Bahkan sampai sekarang beliau masih produktif sebagai penulis dan pembicara, “Saya selalu menulis, entah itu menulis makalah, menulis untuk media atau menulis buku. Bagi saya, menulis adalah kegiata yang tidak ada habisnya,” kata beliau dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Kami berbincang banyak hal, mulai dari aktifitas sehari-hari yang sedang beliau geluti saat ini hingga problematika nasional yang sedang menimpa negeri ini. Diantaranya beliau mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan adanya pendidikan karakter. Khusunya untuk para pemuda. Beliau menjelaskan betapa pentingnya pendidikan karakter bagi para pemuda. “Karena suatu saat kalianlah (para pemuda) yang akan memimpin bangsa ini. Karenanya kalian harus berkarakter, berpendirian, wani (berani –jawa) mengutarakan pendapat, wani mengambil sikap, wani mempertanyakan serta berorientasi maju,” tegas beliau

Kami berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam. Kami mendapat banyak sekali wawasan kebangsaan serta pelajaran dan pengalaman berharga. Diantaranya yang paling berkesan bagi kami adalah tentang hidup sederhana dan mengabdi pada Tuhan. Beliau biasa berjalan kaki dari kantor ke rumahnya yang sebenarnya tidak bisa dibilang dekat untuk orang seusia beliau (79 tahun). Beliau sangat dikenal di lingkungan kehidupannya. Terutama di kalangan anak-anak, beliau sangat populer karena memiliki kekhasan sebagai seorang ‘meester’. “Anak-anak itu selalu menyapa saya ‘mister-mister!’ ketika saya lewat. Sayapun membalas mereka dengan ramah, anak-anak itu lucu sekali,” kemudian kami tertawa bersama.

Sebagai seorang pastor, beliau tidak berkeluarga. Satu-satunya keluarga yang dimiliknya adalah keempat adiknya yang sedang berada di Jerman. Sedang di Indonesia keluarga yang dimilikinya adalah orang-orang yang tergabung dalam yayasan Driyarkara, baik kampus maupun gereja. “Setiap honor yang saya terima itu langsung masuk kedalam rekening yayasan. Saya sendiri? Saya tidak punya rekening. Saya hanya mengambil jika saya butuh. Lagipula kami selalu sarapan pagi dan makan malam bersama di gereja, jadi saya tidak terlalu memerlukannya, apalagi makan siang. Saya tidak butuh makan siang,” tegas beliau.

Selain itu beliau berpesan agar kita semua selalu memperhatikan kemiskinan dan orang-orang kecil. “Ini juga merupakan problem bangsa. Kita tidak boleh mengabaikan rakyat kecil, kita harus selalu memihak kepada mereka, baru-baru ini juga saya menulis tentang penggusuran di salah satu media cetak,” kata beliau. “..selalu berpihak kepada rakyat kecil,” lanjutnya.


Pertemuan kami dengan Romo Magnis diakhiri dengan pemberian cinderamata dari tim sowan PENA dan foto bersama. Tak lupa kami juga meminta kesediaan Romo Magnis untuk diundang dalam acara-acara yang akan diadakan PENA dalam bulan-bulan mendatang.  Beliau mengatakan bahwa selama tidak ada kesibukan dan halangan beliau sanggup memenuhi undangan dari Pemuda Nusantara. []

            

Sabtu, 02 April 2016

Sowan Pemuda ke Komunitas CCE



Duta Afendi (sweater merah) sedang mendongeng di aula CCE (dok.Pena)

Salah satu program rutin devisi sosial PENA adalah Sowan Pemuda. Sowan Pemuda adalah kegiatan kunjungan ke berbagai tokoh atau komunitas yang memiliki visi dan misi yang senada dengan komunitas PENA untuk membangun sinergitas dan saling berbagi pengalaman. Pada hari Jum’at, 26 Maret 2016 pukul 10.30 sampai 14.30 WIB diadakan kunjungan ke komunitas CCE (Charity of Children Education). Sowan kali ini dilakukan oleh duta Mahdi, Bagir, Ahmed, Afendi, Ain, Bela, Mela, Zainab dan Nadhira. Dalam kegiatan sowan ini, para duta bertemu dengan para volunteer komunitas CCE, diantaranya Kak Dwi, Kak Risma, Kak Dewi, dll.

Komunitas CCE adalah sebuah komunitas yang terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Jabodetabek yang peduli terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2012, berawal dari kepedulian para mahasiswa yang terbentuk dalam komunitas entrepreneur yang ingin membeli botol bekas ke kampung pemulung di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Niat mereka yang hanya ingin membeli botol bekas berubah menjadi gerakan sosial untuk membantu permasalahan pendidikan di kampung pemulung tersebut. Kepedulian mereka muncul ketika mendatangi langsung perkampungan tersebut. Disana mereka “dicurhati” oleh warga sekitar tentang anak-anak mereka yang banyak putus sekolah, dan sulit mengenyam pendidikan.

Di tahun ini, komunitas CCE di daerah Kebagusan ini sudah memiliki sekitar 30 adik asuh dari usia 4-15 tahun. Mereka memiliki sebuah basecamp tempat menyimpan barang-barang dan buku-buku serta satu petak ruangan yang dijadikan sebagai aula. Selain kelas belajar di Kebagusan, mereka juga memiliki kelas cabang di daerah lain, seperti Pejaten, Cilandak dan Jatayu. Tujuan kegiatan Sowan Pemuda sendiri yaitu membangun relasi serta belajar dari pengalaman target. Kami pun mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana membangun sebuah gerakan peduli pendidikan seperti yang dilakukan oleh komunitas ini. 

Foto bersama dengan Komunitas CCE (dok.Pena)
Setelah berbincang-bincang dengan kakak-kakak asuh CCE, kami menunaikan sholat Jum’at di masjid terdekat. Setelah sholat Jum’at, kami mengadakan kegiatan dengan adik-adik asuh CCE.  Kegiatan ini dipandu oleh duta Mela, yang dimulai dengan sesi perkenalan, baik dari adik-adik asuh maupun dari duta-duta PENA. Setelah itu, ada duta Efendi yang menceritakan beragam dongeng dan kisah-kisah Nabi. Lalu adik-adik diminta untuk menyampaikan pesan dari dongeng dan kisah-kisah yang telah diceritakan. Kegiatan bersama anak-anak ini dimulai sejak pukul 13.00 sampai 14.30 dan berlangsung dengan sangat hangat dan antusias. Di akhir kunjungan kami ini, kami memberikan cinderamata kepada kakak-kakak asuh CCE dan diakhiri dengan foto bersama.

Cinderamata yang kami berikan adalah sebuah sebuah poster bertuliskan kalimat sederhana dari Malala Yousafzai, peraih nobel perdamaian termuda. “With guns, you can kill terorists. With education, you can kill terorism.” Kalimat ini menyatakan betapa pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Beruntunglah bagi kita yang masih bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Dan merupakan tanggung jawab kita untuk saling bahu membahu mewujudkan pendidikan yang layak bagi setiap anak bangsa.

Dari kunjungan ke komunitas ini, para duta PENA belajar banyak hal. Seperti yang dikatakan oleh kakak-kakak asuh CCE, “ada suka-dukanya”. Ruang belajar yang diterjang banjir, bahkan digusur pun sudah pernah mereka rasakan selama ini. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus mengulur tangan. “Anak-anak pemulung itu adalah adik-adik kita” itulah motivasi yang tersimpan dibalik kegigihan mereka sampai saat ini. Selain itu, dengan berinteraksi langsung di lingkungan “kumuh” tersebut, jiwa kita  menjadi jiwa yang menghargai setiap hal yang kita miliki, baik makanan, rumah, apalagi pendidikan.

Selain mendapat pengalaman dari komunitas CCE, para duta juga berharap dapat bekerjasama di lain kesempatan. Seperti jika PENA ingin mengadakan kegiatan sosial bisa mengundang kakak asuh CCE untuk berpartisipasi, begitu pun sebaliknya. Semoga komunitas ini dapat menjadi inspirasi bagi para duta untuk bergerak membantu sesama. [Bbd/12]

Selasa, 15 Desember 2015

The Green Patriot




The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.
Kegiatan ini diselenggarakan di kampus STFI Sadra, Jakarta Selatan pada tanggal 12 Desember 2015.
Kegiatan ini mendapat animo yang sangat luar biasa dari para mahasiswa dan civitas akademika kampus Sadra. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga mendapat apresiasi yang istimewa dari direktur Sadra.

Secara teknis, kegiatan ini berupa menanam berbagai macam tumbuhan dengan pot-pot yang unik dan menempatkannya di berbagai tempat di area kampus, mulai dari tempat parkir, kelas-kelas, resepsionis, hingga kantor dosen. Kegiatan ini juga dilakukan untuk menyambut datangnya bulan rabiul awwal -atau juga dikenal dengan bulan maulid, karena didalamnya terdapat hari kelahiran Rasulullah SAW.

Ada hal yang unik yang membedakan kegiatan penghijauan The Green Patriot dengan kegiatan penghijauan yang lainnya. Hal unik tersebut ialah media tanam yang digunakan. Media tanam yang digunakan dalam kegiatan ini berupa hidrogel, yaitu gel berbentuk bulat kecil yang didalamnya mengandung hidrogen dan akan mengembang jika dimasukkan ke dalam air.

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberi edukasi tentang menanam dengan menggunakan media tanam Hidrogel ini. Dan ternyata menanam menggunakan media hidrogel itu tidak sulit kok. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan juga tidak terlalu banyak. Bahan-bahan yang dibutuhkan anatara lain: air, hidrogel dan tumbuhan hidup. Adapun peralatan  yang dibutuhkan ialah: Ember, pot, kawat (jika perlu), gayung dan pisau/cutter/gunting.

Setelah semua bahan dan peralatan siap, maka kita hanya tinggal mengikuti langkah-langkah yang akan dijelaskan sebagaimana berikut:

1.Pertama tuangkan air kedalam ember hingga mencapai tiga perempatnya.

2.Setelah itu masukkan semua hidrogel kedalam ember yang berisi air. Rendam hidrogel selama sekitar 15 menit.

3.Selagi menunggu hidrogelnya mengembang, bersihkan dan siapkan pot-pot yang telah disediakan beserta tanaman-tanaman yang hendak ditanam.

4.Setelah hidrogel tersebut mengembang sempurna, ambil hidrogelnya sedikit demi sedikit lalu masukkan kedalam pot yang sudah ada tanamannya, usahakan airnya rendamannya tidak ikut masuk kedalam pot.

5.Sesuaikan tanaman yang sudah ditanam dalam hidrogel, dan tanaman dengan media hidrogel sudah siap untuk diletakkan di taman atau dipajang didalam rumah. [M.Bbd]