About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Sabtu, 02 Juli 2016

Konsep Juru Selamat dalam Syiah Imamiah dan Film Serial Avatar The Legend of Aang



Abstract
            Every religion have concept of savior, and this concept become inspiration into world of cinema, like as serial film Avatar The Legend of Aang. One of concepts of savior which has similar story with this film is concept of savior in Shia Imamiah. This article tell about comparation between concept of savior in Shia Imamia and serial film Avatar The Legend of Aang, started from identity of them, imamiah concept and avatar cycle, occultation till the day which have been determined, the mission as a savior and character of them.
Keyword: Imamah, avatar, occultation, justice, balance, rescuing.

Abstraksi
            Setiap agama memiliki konsep juru selamat, dan konsep juru selamat ini menjadi inspirasi dalam dunia perfilman, seperti dalam Avatar The Legend of Aang. Salah satu konsep juru selamat yang memiliki alur cerita mirip dengan film ini adalah mazhab Syiah Imamiah. Tulisan ini membahas tentang komparasi antara konsep juru selamat dalam Syiah Imamiah dan film Avatar The Legend of Aang, mulai dari identitas siapa keduanya, konsep imamah dan siklus avatar, kegaibannya hingga hari yang ditentukan, misi keduanya sebagai juru selamat dan karakter keduanya.   
Kata Kunci: Imamah, avatar, kegaiban, keadilan, keseimbangan, penyelamatan.

Pendahuluan

           Setiap manusia pasti mengiginkan kesempurnaan, yang tercermin pada kehidupan yang dipenuhi oleh kesempurnaan dan kebahagiaan. Suatu kempurnaan akan menjadi kesempurnaan jika kesempurnaan itu terwujud tidak hanya dalam benak, tetapi juga dalam kenyataan. Kenyataan pun terhubung dengan apa yang ada dalam benak. Seperti halnya air, jika tidak ada air maka tidak akan ada yang namanya haus. Jika tidak ada makanan, maka tidak akan ada yang namanya rasa lapar. Dan jika tidak ada reproduksi, maka tidak akan ada daya seksual. Dengan dalil  ini, harapan-harapan manusia akan kesempurnaan sangat mungkin terwujud. Masa depan manusia akan dipenuhi oleh kedamaian dan keadilan. Kondisi seperti ini akan terjadi melalui usaha manusia, dan juga atas pertolongan Tuhan. pertolongan Tuhan itu termanifestasi pada apa yang kita namakan juru selamat.[1]

           Sebagian besar agama memiliki ajaran tentang konsep mesianisme atau juru selamat. Seperti halnya lima agama besar, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, Hindu dan Buddha. Dalam Hinduisme, ajaran mesianisme ini terdapat dalam kitab Visnu Purana, yang mengungkapkan bahwa akan muncul seorang “Kalki” atau “Sang Penunggang” yang merupakan “the tenth avatar” atau inkarnasi kesepuluh dari Wisnu di periode kali yoga atau era terburuk dari periode sebelumnya. Kalki ini akan menumpas segala bentuk kejahatan dan mengembalikan nilai-nilai kesucian. Di dalam Buddha disebutkan bahwa Siddharta Gautama meramalkan datangnya seorang Budha selainnya yang akan datang di masa yang akan datang. Budha ini bernama Metiaya yang berarti cinta. Metiaya ini akan datang untuk menegakkan sebuah kerajaan ideal di muka bumi. Sebuah kerajaan yang akan memerintah dengan keadilan dan penuh kedamaian. Kajian juru selamat dalam pandangan Kristen dan Yahudi dapat kita temukan dalam kajian Kristologi. Kristologi ini merupakan studi kritis para cendikiawan Islam terhadap agama Yahudi dan Kristen, dimana ilmu ini berasal dari kata Kristos yang berarti messiah (juru selamat). Jadi ilmu ini tidak terlepas dalam kajian juru selamat. [2]

           Setiap agama itu, walaupun memiliki keyakinan terhadap juru selamat, tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspeknya. Begitu pun dalam Islam yang berbeda dengan agama-agama lain. Dalam Islam sendiri terdapat perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam meyakini konsep juru selamat. Tetapi sebenarnya, menurut Penulis, perbedaan itu tidaklah terlalu penting, karena tidak mengubah substansi dari konsep juru selamat itu sendiri.

           Konsep juru selamat ini nampaknya mempengaruhi dunia perfilman, yang menjadikan konsep juru selamat sebagai topik utamanya. Salah satu film yang nampak memperlihatkannya adalah film serial Avatar: The Legend of Aang. Dalam film ini, kita akan melihat nuansa filsafat —atau lebih tepatnya ajaran filsafat— dalam bahasa yang dapat dipahami oleh orang awam. Dalam tulisan ini Penulis berusaha untuk mengkomparasikan film Avatar dengan konsep juru selamat yang ada dalam keyakinan Syiah Imamiah. Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan paralel, karena Penulis tidak berusaha untuk menyangkut pautkan keduanya, melainkan hanya untuk memperlihatkan kesamaan demi memaknai konsep juru selamat itu sendiri.          

Dalam rangka sistematisasi, Penulis membagi tulisan ini menjadi lima topik. Pertama, Penulis akan menjabarkan siapa Imam Mahdi dan Avatar. Kedua, makna menghilangnya Imam Mahdi dan Avatar Aang. Ketiga adalah sistem imamah dan siklus avatar. Keempat adalah misi yang diembannya. Terakhir adalah karakternya dalam menciptakan kedamaian.


Imam Mahdi dan Avatar
            Imam Mahdi dalam pandangan Syiah Imamiah berbeda dengan pandangan Sunni. Maka kita perlu tahu apa Imamah itu. Imamah memiliki beberapa definisi:[3]

1.    Dalam konteks sosial, imamah adalah kepemimpinan dalam suatu masyarakat, Imamah jenis ini juga diakui oleh Sunni, dimana imam mengurus hal-hal administratif dan politis. Dalam Sunni, istilah yang digunakan adalah khilafah.
2.    Dalam konteks religius, imamah adalah kepemimpinan dalam keilmuwan Islam, dimana imam mendapat ilmu dengan cara yang gaib dan rahasia. Ilmu ini diturunkan turun-temurun dari imam sebelumnya kepada imam berikutnya.
3.    Dalam konteks irfan, imamah adalah kepemimpinan yang bersifat spiritual atau yang lebih kita kenal dengan istilah al-walayah. Dalam setiap zaman ada manusia sempurna yang memiliki segala kualitas manusia. Tidak ada zaman yang di dalamnya tidak terdapat seorang wali sempurna atau yang biasa sering kita sebut wali quthb. Keduabelas imam diyakini sebagai wali quthb pada setiap zaman yang berbeda.

Jadi, Imamah dalam pandangan Syiah Imamiah memiliki makna majemuk, yaitu bisa dalam segi kepemimpinan politis, keilmuwan maupun spiritual. Imamah sendiri berbeda dengan nubuwah. Kenabian berakhir pada nabi Muhammad, sedangkan kepemimpinan tidaklah berakhir. Tugas seorang nabi adalah menunjukkan jalan yang benar dan menyampaikan risalah, sedangkan tugas seorang imam adalah mengawasi dan membimbing orang-orang yang menerima kepemimpinannya. Nabi Muhammad adalah seorang nabi sekaligus imam. Dalam konteks ini, para imam melanjutkan kepemimpinan Nabi saw., dan kepemimpinan itu bukanlah atas kesepakatan manusia, melainkan karena ditunjuk oleh Nabi atas perintah Allah.[4]

Pandangan seperti itu sesuai dengan konsep walayah (kewalian) dalam Irfan. Kewalian adalah kemuliaan dari Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan-Nya.[5] Ada pun tugas seorang wali adalah  mengajak manusia untuk beriman kepada Allah,  mengikuti syariat seorang rasul, dan membimbing umat manusia supaya memahami dan menerapkan syariat yang dibawa oleh rasul.[6] Terlepas dari apakah konsep imamah mempengaruhi walayah atau sebaliknya, keduanya sama-sama mengisyaratkan adanya kepemimpinan yang membimbing umat manusia ke jalan yang benar.

Dalam Syiah Imamiah, Imam Mahdi adalah imam terakhir yang bernama Muhammad ibn Hasan al-Askari. Dikenal dengan panggilan Abu al-Qasim, al-Qaim, atau Muhammad al-Muntazhar dan bergelar al-Mahdi. Imam Mahdi lahir di Samarrah pada tahun 256 H/856 M.[7] Dia adalah imam yang diyakini menjadi juru selamat dalam Syiah Imamiah. Dia adalah insan kamil yang maksum, yang akan membimbing umat ke jalan yang benar dengan keadilannya.

Secara etimologi avatar berarti descent atau turun. Avatar merupakan konsep juru selamat dalam Hinduisme, yang berarti bahwa film ini mengambil judulnya dari ajaran Hinduisme tentang juru selamat. Turun di sini dapat diartikan turun dari langit (heaven) ke bumi. Jadi, secara terminologi avatar berarti turunnya sesosok penyelamat dari langit ke bumi. Avatar ini dipahami sebagai manifestasi dari Wisnu. Sebagaimana kata Wisnu dalam Bhagavadgita, “Whenever righteousness wanes and unrighteousness increases, I send myself forth”.[8]

Dalam film, avatar adalah manusia sempurna yang mampu mengendalikan empat elemen alam yang melambangkan keseimbangan. Keempat elemen itu adalah udara, air, tanah dan api, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Avatar ada pada setiap zaman. Dia bereinkarnasi dari satu bangsa ke bangsa lain. Dalam film ini avatar yang terpilih adalah Aang, yang merupakan pengendali angin. Avatar sebelum Aang adalah Roku, yang merupakan pengendali api. Problem dari kedua avatar itu adalah kerajaan api yang mulai melakukan invansi dan merusak keseimbangan dunia.

Sistem Imamah dan Siklus Avatar

            Dalam Syiah Imamiah, kepemimpinan tidaklah bersiklus, melainkan berakhir pada imam ke-12 yaitu Muhammad al-Muntazhar. Para imam yang berjumlah 12 ada pada setiap zaman, dimana setiap zaman itu terdapat kezaliman. Para imam bertugas untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan menghilangkan kezaliman itu. Sejarah telah membuktikan bahwa manusia mengabaikan pembimbing tersebut, sehingga tercatat bahwa banyak dari para imam yang dibunuh oleh penguasa. Semua ini disebabkan oleh daya ghadab yang berlebihan dari para penguasa, sehingga rasa ingin menguasai mendominasi rasa keadilan dalam dirinya. Perbedaannya dengan Nabi adalah jika Nabi memiliki hubungan langsung dengan Allah, maka imam ditunjuk oleh Nabi atas perintah-Nya. Keduanya ditunjuk bukan atas pilihan manusia.[9]

            Jika konsep imamah terbatas pada keduabelas imam, maka dalam avatar jumlah tidak terbatas. Avatar Roku mengatakan kepada master Jeong Jeong, “Aku telah menguasai elemen seribu kali dalam seribu kehidupan. Sekarang aku harus melakukannya sekali lagi”[10]. Karena konsep avatar adalah reinkarnasi, maka ketika seorang avatar mati, ia akan terlahir kembali dalam bangsa yang berbeda. Reinkarnasi itu membentuk siklus yang berputar dalam keempat elemen, yaitu udara, air, tanah dan api.[11] Avatar sebelum Aang adalah Roku yang merupakan pengendali api. Avatar sebelum Roku adalah Kyoshi yang merupakan pengendali tanah. Siklusnya seperti itu dari awal adanya avatar hingga akhir, kecuali jika siklus itu rusak.

            Avatar tidak dipilih atas pilihan manusia, melainkan reinkarnasi berjalan sesuai siklus yang ditentukan oleh alam semesta (cosmic energy). Alam semesta adalah sesuatu yang dijunjung tinggi. Dalam film avatar terkandung panteisme, dimana alam semesta adalah Tuhan, dan Tuhan adalah alam semesta. Begitu pun dalam Imamah yang monoteisme, imam dipilih oleh Nabi atas perintah Allah. Keduannya, yakni imam dan avatar, tidak dipilih atas kesepakatan manusia, karena kesepakatan manusia memiliki banyak kekurangan. Dan tentu, semua manusia tidak akan sepakat dalam menentukan suatu pilihan, karena perbedaan adalah niscaya. Maka Allah menurunkan Imam Mahdi sebagai pemersatu umat, begitu pun kekuatan kosmik memilh avatar sebagai penyeimbang dunia.

Makna Menghilangnya Imam Mahdi dan Avatar Aang

            Ketika avatar Roku bereinkarnasi dalam hidup Aang, maka Aang menjadi penerus dari Roku. Sebagai avatar, Aang harus menghadapi negara api dan mengatasi keidakseimbangan yang disebabkan olehnya. Tetapi di saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Menghilangnya Aang secara historis disebabkan oleh rasa sedih dan kecewanya Aang kepada gurunya yang membedakannya dengan anak-anak lain dan memisahkannya dengan biksu Gyatso. Aang tidak menerima takdirnya sebagai Avatar, karena takdir ini merusak kebahagiaannya. Maka dia kabur dari kuil dan ditelan badai. Saat ditelan badai, dia mengeluarkan energi spiritualnya yang menghasilkan pengendalian air untuk membekukan dirinya dan Appa (bison terbangnya). Hingga seratus tahun kemudian dia ditemukan oleh Katara dan Sokka dalam sebuah bongkahan es, yang menandakan misinya sebagai sang penyelamat dimulai.

            Menghilangnya Aang jika kita tinjau secara spiritual akan bermakna lain. Menghilangnya Aang pada saat itu adalah sesuatu yang tepat, atau dapat dikatakan bahwa ini merupakan takdir yang dimiliki oleh avatar Aang. Tak lama setelah Aang menghilang, kuil tempat Aang belajar dimusnahkan oleh negara api. Jika Aang tidak menghilang dan berada dalam kuil, maka dapat diperkirakan Aang pun akan mengalami nasib yang buruk, karena seorang avatar harus mendewasakan diri terlebih dahulu secara psikis dan fisik untuk mengendalikan kekuatan yang dahsyat dalam dirinya. Kenyataannya, pada waktu itu Aang belum siap. Karena Aang menghilang, maka dia selamat dari serangan negara api. Di saat Aang menghilang negara api melakukan invasi terus-menerus, menjajah dan merampas kebebasan masyarakat negeri lain. Dengan begitu, saat kemunculannya, avatar benar-benar dinantikan untuk dapat menyelamatkan dunia. Aang datang pada waktu yang tepat untuk mendamaikan dunia, yaitu pada saat dunia memang benar-benar membutuhkannya.

            Hal serupa dikatakan dalam riwayat terjadi pada Imam Mahdi. Imam Mahdi yang telah lahir pada tahun 256 H juga mengalami kegaiban (occultation). Kehidupan Imam Mahdi dapat dibagi menjadi empat fase:[12]
1.      Ketika Imam Mahdi masih dalam naungan ayahnya, sejak kelahirannya pada tahun 256 H hingga 260 H. Pada fase ini, mulai dari kelahirannya, Imam Mahdi dirahasiakan keberadaannya. Hanya segelintir orang saja yang dapat menemuinya. Hal ini disebabkan oleh ancaman para penguasa atas para imam, seperti yang dikatakan ayah Imam Mahdi sendiri;

“Bani Umayah dan Bani Abbas meletakkan pedang-pedang mereka pada kami karena dua sebab. Pertama, mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki hak atas khilafah, maka mereka takut atas pengakuan kami atas khilafah dan kekhilafahan tetap berada pada pusatnya. Kedua, mereka mengetahui dari sumber-sumber yang mutawatir mengenai kehancuran yang zalim dan sewenang-wenang melalui tangan al-Qaim dari keluarga kami. Mereka berupaya membunuh Ahl al-Bait dan memutus garis keturunannya agar mereka dapat mencegah kelahiran al-Qaim atau membunuhnya…”[13]
2.      Kehidupan Imam Mahdi sejak ayahnya wafat (260 H) hingga 329 H. setelah ayahnya wafat, Imam Mahdi menjadi imam keduabelas, Imam Mahdi mendapatkan perintah dari Allah untuk menghilang (occultation). Pada fase ini, menghilangnya Imam Mahdi tidak terjadi secara total, karena beliau masih dapat dihubungi oleh wakil-wakilnya. Hal ini nampak pada banyaknya risalah-risalah yang dikeluarkan imam tentang berbagai topik, yang disampaikan melalui wakilnya. Wakilnya adalah Utsman ibn Sa`id, Muhammad ibn Utsman, Abu al-Qasim Husain ibn Ruh, dan Ali ibn Muhammad Simmari.[14] Fase ini adalah barzakh (peralihan) antara masa kehidupan ayahnya dan kegaiban panjangnya.
3.  
     Menghilangnya Imam Mahdi sejak kematian wakil keempatnya pada 329 H, Syekh Ali ibn Muhammad Simmari, hingga hari kemunculannya kelak. Kegaiban ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, karena ketidaksiapan umat menerima misi atau syariat Allah. Kegaiban Imam Mahdi memberikan kesempatan umat untuk menyempurnakan persiapannya. Kedua, karena untuk menjaga keamanan Sang Imam, agar tidak seperti pendahulunya yang tidak wafat kecuali dengan pedang atau racun. Ketiga, kehadiran atau kemunculan Imam Mahdi harus dihindari sebelum sempurnanya kondisi yang dibutuhkan untuk sebuah gerakan reformasi kebaikan terbesar.[15] Ada pun hikmah kegaiban Sang Imam ini tidaklah akan diketahui sebelum kemunculannya.[16]
4.      Kemunculan Imam Mahdi sejak berakhirnya masa kegaiban panjang.

Ada kesamaan corak antara menghilangnya Avatar dan Imam Mahdi. Sebab dari keduanya itu adalah karena ketidaksiapan. Avatar belum siap karena belum mampu menguasai keempat elemen dan tidak adanya sahabat yang membantunya. Setelah menghilang, barulah ia belajar pengendalian air, tanah dan api, juga bertemu dengan teman seperjuangan yang siap membelanya sampai mati. Begitu pun Imam mahdi, dia menghilang karena ketidaksiapan umat dalam pergerakan menghilangkan kezaliman di muka bumi. Karena ketidaksiapan umat untuk membelanya sampai mati, maka kehadiran Sang Imam akan mengancam jiwanya sendiri. Jadi, menghilangnya Imam Mahdi tak lain  demi keberhasilan penegakan keadilan itu sendiri.

Adapun hikmah menghilangnya avatar, dapat kita temukan pada episode menjelang akhir, dimana Zuko, pangeran negara api, bergabung dengan avatar. Dan bertepatan dengan turunnya komen Sozen yang menjadi klimaks dari kekuatan negara api dalam invasi, juga menjadi klimaks dari penegakan kedamaian. Tugas avatar adalah menyeimbangkan dunia, atau lebih tepatnya empat kerajaan, sehingga setiap kerajaan tetap harus memiliki pemimpin masing-masing. Kehadiran avatar setelah kegaibannya juga berperan dalam membentuk pribadi Zuko, sang pangeran negara api. Ketika komet Sozen jatuh dan negara api memulai penyerangan, sang avatar (Aang) dengan kekuatan luar biasa yang dibantu oleh teman-teman seperjuangannya, mampu mengalahkan raja api dan pasukannya. Lalu bagaimana negara api? Tentu berakhirlah masa penjajahan negara api. Tetapi bukan berarti misi Aang adalah untuk menghancurkan negara api, melainkan untuk menyeimbangkannya. Jadi negara api tetap ada. Maka dibutuhkan pemimpin baru yang adil bagi negara api, dan itu adalah Zuko. Maka di akhir cerita dunia menjadi seimbang kembali dengan sempurna karena Aang muncul di waktu yang tepat. Adapun hikmah kegaiban Imam Mahdi akan tersingkap pada saat kemunculannya, seperti dalam film avatar.

Misi Imam Mahdi dan Avatar Aang sebagai Juru Selamat
            Imam Mahdi disebut juga al-Qaim. Al-Qāim berasal dari kata qāma yang berarti berdiri atau tegak. Al-Qaim dapat diartikan sebagai seseorang yang bangkit. Imam Mahdi sebagai al-Qaim adalah seseorang yang akan bangkit untuk menindak dan menuntut balas, memenuhi bumi manusia dengan keadilan dan kebenaran sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kalaliman dan kebatilan. Tugas Imam Mahdi bukan lagi untuk mengajarkan, melainkan menghakimi dan menindak tegas semua bentuk pelanggaran. Tugas lain dari Imam Mahdi adalah membuka pikiran manusia mengenai alam-alam lain. Imam akan menyingkapkan belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kesadaran manusia akan kehidupan gaib yang tidak terindra.[17]

            Imam Mahdi memiliki tugas yang lebih berat dari imam-imam terdahulu. Jika para imam bertugas untuk membimbing manusia, maka Imam Mahdi adalah menghakimi dan menindak tegas semua bentuk kezaliman. Maka sudah tentu Imam Mahdi adalah seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dan pengikut setia yang akan menemaninya dalam rangka menegakkan keadilan. Imam Mahdi juga adalah perantara antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Seperti para nabi yang menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan, Imam Mahdi bertugas untuk membimbing manusia untuk mencapai Kebenaran tertinggi.

            Avatar Aang juga memiliki tugas yang serupa dengan Imam Mahdi. Tetapi tidak seperti Imam Mahdi yang juga bertugas untuk membimbing manusia untuk mencapai Kebenaran teringgi, avatar hanya bertugas untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan yang berarti hanya dalam wilayah duniawi. Seperti perkataan avatar Yangchen kepada Aang saat dia ragu untuk membunuh raja api,
“Banyak pengendali udara yang hebat dan bijak telah terlepas dari diri mereka sendiri dan menerima pencerahan spiritual. Tapi Avatar tidak pernah bisa melakukannya, karena tugas jiwamu adalah untuk dunia. Inilah kebijaksanaan untukmu. Tugas tanpa pamrih membuatmu harus mengorbankan kebutuhan spiritualmu sendiri dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi dunia.”[18]

Tugas utama avatar Aang adalah untuk menyeimbangkan dunia dengan menegakkan keadilan dan menumpas kezaliman yang dilakukan oleh kerajaan api. Aang harus menyelamatkan dan melindungi dunia, tetapi tidak berkewajiban membimbing manusia ke jalan spiritual, walaupun dia sendiri mendapatkan pelajaran sebagai avatar melalui penyingkapan spiritual.

Di sini ada kesamaan antara Imam Mahdi dan Avatar Aang. Keduanya bertugas untuk melawan kezaliman, kejahatan dan kelaliman, untuk menciptakan dunia yang damai, adil dan seimbang. Kesamaaan ini juga terdapat pada konsep juru selamat yang lain seperti avatar Kalki atau Isa al-Masih, karena pada dasarnya juru selamat hadir untuk menyelamatkan dunia, walaupun dalam berbagai versi.

Karakter Imam Mahdi dan Avatar Sebagai Manusia Sempurna
            
Dalam menciptakan kedamaian, Aang harus mampu mengendalikan keempat elemen, yakni udara, air, tanah dan api. Masing-masing dari empat elemen ini memiliki makna tersendiri. Air itu sejuk dan mengalir. Sejuk melambangkan rasa persatuan dan kepedulian terhadap sesama. Mengalir melambangkan perubahan. Bumi itu mantap dan stabil yang melambangkan kekokohan atau pendirian yang kuat. Udara adalah elemen kebebasan. Elemen ini melambangkan pelepasan terhadap ‘kemelekatan’ atau kekhawatiran duniawi dan menemukan kedamaian dan kebebasan. Api adalah elemen kekuatan. Api itu hidup dan dapat tumbuh tanpa dikendalikan. Api dapat membawa kehancuran, tidak seperti air yang membawa kehidupan, tanah yang membawa keseimbangan dan udara yang membawa kebebasan. Tetapi api juga adalah energi dan kehidupan itu sendiri. Layaknya matahari, tetapi ada di dalam diri.[19]

Menguasai keempat elemen bukan semata-mata mengendalikan keempat unsur secara fisik. Lebih dari itu, pengendalian keempat unsur melambangkan pengendalian diri, seperti pengendalian amarah, rasa takut, kesenangan, kesedihan, rasa malu, kekuatan, cinta, kebenaran, kesadaran dan kerelaan. Karena sebelum menyeimbangkan dunia, Aang haruslah mencapai keseimbangan dalam dirinya. Menguasai keempat elemen akan membuatnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Pemisahan atas keempat elemen adalah khayalan. Sesuatu yang nampak terpisah dan berbeda sebenarnya satu dan sama. Udara, air, tanah dan api yang berbeda tak lain hanyalah menunjukkan satu realitas yang sama melalui berbagai sisi. Pada zaman sebelum avatar, pengendalian tidak berlaku kepada empat elemen, melainkan pengendalian energi yang ada dalam diri. Untuk mengendalikan energi, jiwa manusia sendiri harus dapat dikendalikan.[20] Jadi karakter avatar sebagai manusia sempurna ada pada pengendalian diri. Ini merupakan ajaran dalam Filsafat Timur.

Imam Mahdi membawa misi untuk menciptakan kedamaian dan menegakkan keadilan di muka bumi. Seperti apa yang Rasulullah katakan, “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman.”[21] Maka apa itu keadilan dan kezaliman? Menurut Murtadha Muthahhari, keadilan dapat ditinjau dari empat sisi. Pertama adalah seimbang, bahwa sesuatu harus proporsional, yang bukan berarti sama rata. Lawan kata dari keadilan yang pertama ini adalah ketidakseimbangan. Kedua adalah persamaan dan nondiskriminasi, bahwa tidak dibenarkan perlakuan yang berbeda karena alasan perbedaan latar belakang seperti ras dan agama. Ketiga adalah hak dan prioritas, bahwa ada perbedaan khusus bagi orang-orang tertentu sesuai karakter khasnya ataupun kebutuhannya. Keempat adalah pelimpahan wujud berdasarkan tingkat dan kelayakan, yang berarti keadilan dipengaruhi oleh kualitas individu.[22]

Keadilan adalah syarat mutlak bagi manusia sempurna. Murtadha Muthahhari membedakan kata ‘sempurna’ (kamil) dan ‘lengkap’ (tamam). Manusia lengkap mengacu pada pada aspek lahiriahnya. Sedangkan manusia sempurna mengacu pada aspek rohani, yakni spiritualitas dan intelektualitas.[23] Manusia sempurna adalah manusia yang mengembangkan semua kualitas di dalam dirinya, baik itu akal dan intuisi, secara seimbang.[24] Karakter Imam Mahdi dalam melaksanakan misinya adalah kesempurnaannya. Kesempurnaannya adalah keadilan itu sendiri.

Keseimbangan dalam avatar serupa dengan konsep adil dari segi pertama. Bahwa sebagai manusia sempurna avatar mampu menyeimbangkan empat elemen yang melambangkan kualias-kualitas dalam diri. Begitu juga Imam Mahdi sebagai manusia sempurna memiliki kualitas yang seimbang, baik secara spiritual maupun intelektual. Keseimbangan avatar secara lebih lanjut dijabarkan sebagai pengendalian diri atas keempat elemen yang ada dalam diri. Jika kita tarik dari pernyataan adil dan lawan katanya, maka kita akan menemuka hal yang serupa. Adil, dalam pengertian selain yang pertama, adalah lawan dari kata zalim. Zalim diartikan sebagai tindakan melampaui batas. Lawan dari tindakan melampaui batas adalah tindakan yang tercipta dari pengendalian diri (kesadaran atau awareness). Maka dari itu, keadilan Imam Mahdi sebagai manusia sempurna dapat dipahami sebagai pengendalian diri.


 Kesimpulan

           Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa ada kesamaan antara konsep juru selamat perspektif Syiah Imamiah dan film serial Avatar The Legend of Aang, terlepas apakah konsep dalam Syiah mempengaruhi produksi film ini. Pertama adalah keduanya sebagai sosok juru selamat. Imam Mahdi dan Avatar sama-sama merupakan pemimpin yang dinantikan. Mereka adalah Sang Penyelamat dunia yang ada di ambang kehancuran. Kedua, mereka tidak terpilih berdasarkan kesepakatan manusia, melainkan terpilih oleh kekuatan ilahi (divine energy). Imam Mahdi dipilih Nabi atas perintah Allah, dan Avatar terpilih oleh alam semesta (cosmic energy). Ketiga, keduanya sama-sama menghilang dan akan muncul pada hari yang telah ditentukan. Menghilang ini memiliki sebab dan tujuan, yakni karena ketidaksiapan dan untuk menyempurnakan persiapan dalam menyelesaikan misi. Keempat, keduanya memiliki misi utama yang serupa. Jika Imam Mahdi bertugas untuk menegakkan keadilan, maka Avatar bertugas untuk menyeimbangkan dunia. Terakhir, keduanya sama-sama mencerminkan sosok manusia sempurna. Imam Mahdi dengan keadilannya, dan Avatar dengan keseimbangannya.

Dalam agama, biasanya konsep juru selamat disampaikan dengan bahasa yang jelas dan gamblang. Sehingga tidak ada lagi interpretasi dari cerita tersebut. Sedangkan dalam film, cerita dapat dipahami secara gamblang oleh orang awam, tetapi juga dapat ditafsirkan untuk mendapatkan makna yang lebih dalam. Dengan komparasi seperti ini, bisa kita dapatkan bahwa akan lebih menarik jika konsep juru selamat disajikan dalam film, dan cerita sebuah film dimaknai melalui suatu ajaran tertentu. Hal ini tak lain dan tak bukan merupakan usaha dalam rangka mewarnai sejarah pemikiran dan kreasi manusia.


[1] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, translated by Sayyed H. Nasr (Qum: Ansariyan Publication, 2001) hal. 211-212
[2] Ali al-Kurani, Imam Mahdi: Dari Proses Gerakan Hingga Era Kebangkitan, (Jakarta: Misbah, 2004) hal-19-20
[3] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, diterjemahkan oleh Satrio Pinandito (Jakarta: Firdaus, 1991) hal. 27-36
[4] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, hal. 7-8
[5] Kautsar Azhari Noer, dkk, Warisan Agung Tasawuf, (jakarta: Sadra Press, 2015) hal. 49
[6] Kautsar Azhari Noer, dkk, Warisan Agung Tasawuf, hal. 51
[7] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, hal. 210
[8] Ed. Lindsay Jones, Ensyclopedia of Religion Part 2, hal. 707-708
[9] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, hal. 70
[10] Lihat Avatar The Legend of Aang episode 16
[11] Avatar The Legend of Aang episode 3
[12] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, diterjemahkan oleh Ahmad Ghazali (Jakarta: al-Huda, 2007) hal. 157-158
[13] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 157
[14] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, hal. 210
[15] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 227-235
[16] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 222
[17] Pengantar Penerbit oleh Musa Kazhim dalam Ali al-Kurani, Imam Mahdi: Dari Proses Gerakan Hingga Era Kebangkitan, hal. 15
[18] Avatar The Legend of Aang episode 59
[19] Avatar The Legend of Aang episode 16, 29, dan 53
[20] Avatar The Legend of Aang episode 29, 39 dan 61
[21] http://id.al-shia.org/page.php?id=383, diakses pada 22 Juni 2016
[22] Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, diterjemahkan oleh Agus Effendi (Bandung: Mizan, 2009) hal. 60-65
[23] Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna, diterjemahkan oleh M. Hasyem (Jakarta: Lentera Basritama, 2003) hal. 20-21
[24] Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna, hal. 14

Sabtu, 23 April 2016

Sowan Pemuda Nusantara: Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ


Sabtu, 23 April 2016 Divisi Sosial Pemuda Nusantara kembali menggelar program Sowan Pemuda ke tokoh-tokoh nasional dan komunitas-komunitas yang sinergi dengan visi dan misi Pemuda Nusantara. Kali ini, tokoh nasional yang dikunjungi oleh tim Sowan PENA adalah Prof. Dr. Romo Franz Magnis-Suseno.


Tim sowan PENA yang berpartisipasi dalam kegiatan hari ini adalah Amar, Muhammad, NIsa, Arnida dan Andri. Tim sowan berangkat dari Fatmawati dan sampai di kantor Romo Magnis (panggilan akrab Franz Magnis-Suseno) yang terletak di dalam kompleks STF Driyarkara Jl. Cempaka Indah, Rawasari pada pukul 15.16.

Setibanya STF Driyarkara, beliau langsung menyambut kami dengan hangat di kantornya. Kesan pertama kami tentang beliau adalah: orang yang tetap enerjik walau berada di umur senja. Selain itu beliau juga orang yang rendah hati dalam sikap dan tutur kata sekalipun beliau adalah tokoh nasional dengan sederet prestasi. Bahkan sampai sekarang beliau masih produktif sebagai penulis dan pembicara, “Saya selalu menulis, entah itu menulis makalah, menulis untuk media atau menulis buku. Bagi saya, menulis adalah kegiata yang tidak ada habisnya,” kata beliau dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Kami berbincang banyak hal, mulai dari aktifitas sehari-hari yang sedang beliau geluti saat ini hingga problematika nasional yang sedang menimpa negeri ini. Diantaranya beliau mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan adanya pendidikan karakter. Khusunya untuk para pemuda. Beliau menjelaskan betapa pentingnya pendidikan karakter bagi para pemuda. “Karena suatu saat kalianlah (para pemuda) yang akan memimpin bangsa ini. Karenanya kalian harus berkarakter, berpendirian, wani (berani –jawa) mengutarakan pendapat, wani mengambil sikap, wani mempertanyakan serta berorientasi maju,” tegas beliau

Kami berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam. Kami mendapat banyak sekali wawasan kebangsaan serta pelajaran dan pengalaman berharga. Diantaranya yang paling berkesan bagi kami adalah tentang hidup sederhana dan mengabdi pada Tuhan. Beliau biasa berjalan kaki dari kantor ke rumahnya yang sebenarnya tidak bisa dibilang dekat untuk orang seusia beliau (79 tahun). Beliau sangat dikenal di lingkungan kehidupannya. Terutama di kalangan anak-anak, beliau sangat populer karena memiliki kekhasan sebagai seorang ‘meester’. “Anak-anak itu selalu menyapa saya ‘mister-mister!’ ketika saya lewat. Sayapun membalas mereka dengan ramah, anak-anak itu lucu sekali,” kemudian kami tertawa bersama.

Sebagai seorang pastor, beliau tidak berkeluarga. Satu-satunya keluarga yang dimiliknya adalah keempat adiknya yang sedang berada di Jerman. Sedang di Indonesia keluarga yang dimilikinya adalah orang-orang yang tergabung dalam yayasan Driyarkara, baik kampus maupun gereja. “Setiap honor yang saya terima itu langsung masuk kedalam rekening yayasan. Saya sendiri? Saya tidak punya rekening. Saya hanya mengambil jika saya butuh. Lagipula kami selalu sarapan pagi dan makan malam bersama di gereja, jadi saya tidak terlalu memerlukannya, apalagi makan siang. Saya tidak butuh makan siang,” tegas beliau.

Selain itu beliau berpesan agar kita semua selalu memperhatikan kemiskinan dan orang-orang kecil. “Ini juga merupakan problem bangsa. Kita tidak boleh mengabaikan rakyat kecil, kita harus selalu memihak kepada mereka, baru-baru ini juga saya menulis tentang penggusuran di salah satu media cetak,” kata beliau. “..selalu berpihak kepada rakyat kecil,” lanjutnya.


Pertemuan kami dengan Romo Magnis diakhiri dengan pemberian cinderamata dari tim sowan PENA dan foto bersama. Tak lupa kami juga meminta kesediaan Romo Magnis untuk diundang dalam acara-acara yang akan diadakan PENA dalam bulan-bulan mendatang.  Beliau mengatakan bahwa selama tidak ada kesibukan dan halangan beliau sanggup memenuhi undangan dari Pemuda Nusantara. []

            

Sabtu, 02 April 2016

Sruput Makna: Berkawan dengan Kesulitan

Di balik Kesulitan Ada Kemudahan.

Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan, benar-benar selalu ada kemudahan. Jika telah selesai dengan satu pekerjaan, bersiaplah pada pekerjaan selanjutnya. Dan, kepada Tuhanmu semata hendaknya kau berharap (al-Insyirah: 1-8).

Ayat “bersama kesulitan selalu ada kemudahan” bisa pula dipahami “kebahagiaan selalu ada bersama penderitaan”.

Mengapa dalam ayat tersebut, Allah mendahulukan kesulitan atau penderitaan ketimbang kemudahan atau kebahagiaan? Apa yang bisa kita pelajari dari penempatan seperti itu?
Barangkali sudah menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memperhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan, something wrong lebih mengalihkan perhatian daripada something right. Dalam bahasa bisnis media massa: bad news is good news. Sebuah gigi yang sakit akan lebih diperhatikan daripada sekian gigi yang sehat. Satu anggota badan yang sakit akan lebih menyita perhatian daripada anggota-anggota badan lain yang tak sakit. Bisa disebutkan sekian contoh bagaimana kita pernah mengalami penderitaan dan kesulitan. Begitu menyita perhatian, terkadang penderitaan dan kesulitan membuat orang berputus asa, merasa hidupnya sempit dan buntu.

Dengan ayat itu, Allah hendak mengatakan bahwa kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan. Bahkan, Allah perlu mengatakan itu dengan kalimat-kalimat penegasan. Dalam redaksi ayatnya, kita lihat ada dua tanda penegasan: pertama kata Inna yang diartikan sungguh atau benar-benar. Yang kedua adalah pengulangan kalimat bersama kesulitan akan ada kemudahan. Penegasan itu meyakinkan agar seseorang selalu optimis dan tak sepatutnya larut dalam duka
musibah dan bencana.

Surat alam nasyrah ini juga disebut dengan al-Insyirah, yang berarti kelapangan hati atau kebahagiaan. Orang bahagia itu berhati lapang, sebab beban-beban di hatinya telah hilang.
Salam Hangat, Bidang Intelektual Komunitas Pemuda Nusantara.

Sruput Makna: Belajar dari Bung Karno

Meniti Jejak Soekarno dalam Pengalaman Menemukan Tuhan

Siapa yang tak megenal Ir. Soekarno, Pria ini tidak saja popular dan dikagumi di Indonesia, tapi juga namanya banyak dikenal di berbagai belahan dunia sebagai seorang orator ulung, pejuang revolusi, dan peletak dasar nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia. Bung Karno (sapaan akrab Soekarno) lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 06 Juni 1901. Sebagai seorang pemuda yang lahir dari rahim ibu pertiwi dan diberikan kesempatan untuk memimpin bangsa Indonesia selama 21 tahun, beliau begitu menunjukkan kecintaanya terhadap negri ini dalam bentuk pengabdian, sumbangsih gagasan, serta penghargaanya terhadap persatuaan dan kemanusiaan.

Dalam salah satu pidatonya Bung Karno menyampaikan bahwa “Tuhan memberikan kepada saya satu kali kehidupan, dan kehidupan yang hanya sekali ini, 100 persen saya berikan hidup ini kepada Indonesia. Andai Tuhan berikan saya dua kali kehidupan, maka 200 persen hidup saya saya berikan untuk Indonesia”.
Bung Karno adalah tipe orang yang tidak mudah puas, penuh keraguan, selalu mencari kebenaran dan memiliki penghayatan yang luar biasa. Sifat-sifat tersebut terlihat dari kisah beliau dalam menitih perjalananya menemukan Tuhan. Kisah yang jarang kita temukan di buku-buku sejarah ataupun cerita guru dan masyarakat tentang beliau.

Bung Karno mendekati Tuhan dengan mencoba masuk dari berbagai jalan. Ia berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Dalam pengakuanya beliau mengatakan bahwa “kakeknya menanamkan pada dirinya kebudayaan jawa dan mistik. Ayahnya teosofi dan Islamisme. Ibunya Hinduisme dan Buddishme.” Pengenalanya pada Islam semakin mendalam ketika ia tinggal di rumah Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya.

Pada Pertengahan 1920-an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuatnya semakin mendekat kepada Tuhan. Seperti dalam pengakuanya:
“Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di Negri kami sebagian besar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan, selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju pada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Mahakuasa sebagai Tuhan personal”.

Berbagai cobaan hidup yang menimpa diri Bung Karno, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih sensitif terhadap ketuhanan. Dalam ungkapan Im Yang Tjoe, “Jiwa manusia menjadi matang dalam air mata”. Betul, karena berbagai cobaan tersebut jiwa Bung Karno semakin matang dalam kedukaan.

Suasana kejiwaan seperti itu bertautan dengan perjumpaanya dengan berbagai tokoh lintas agama. Ketika KH. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya. Bermula dari diskusi mengenai pergerakan nasional, lalu mengerucut pada soal agama dan Allah, yang menjadi keahlian Agoes Salim. Sebuah momen kebetulan bagi Bung Karno yang jiwanya sedang haus akan siraman rohani. Setelah uraian dan pertukaran pandangan mengenai segi-segi ketuhanan hingga larut malam, apa yang menjadi pemahaman Salim tidak selalu cocok dengan dengan jalan pikiran Bung Karno. “Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang tuan (Agoes Salim) ‘gambarkan’ itu tidak cocok dengan pendapat saya,” Ujar Bung Karno sambil berpamitan pulang. H. Agoes Salim pun tersenyum dan geleng-geleng kepala sendirian, seraya berkata “Ah, anak muda kepala batu, tapi saya doakan mudah-mudahan Allah Swt akan menerangi pikiranmu.”

Dalam kesempatan lain Bung Karno berjumpa dengan seorang Pastor bernama Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun beliau berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang ‘digambarkan’ sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno ragu, “Katanya Tuhan itu kebesaranya tak terbatas, tetapi kenapa oleh Sang Pastor dibataskan kepada apa yang baik saja, sedangkan yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok.” Dengan kesal, namaun tetap dalam ekspresi cinta, Pastor itu pun berseloroh, “Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, “Tuhan akan mengampuni saya.”

Dalam pencarian berikutnya, Bung Karno sering mengunjungi kampung-kampung dan gang-gang kumuh untuk mencari Tuhan seperti yang dilukiskan oleh Tolstoy, bahwa tuhan berada di tempat-tempat yang penuh debu. Tentang hal ini, Bung Karno punya ungkapan yang amat menyentuh, “Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Meski begitu, dahaganya akan Tuhan belum juga terpuaskan.

Pencarian mengantarkanya pada buku-buku Hinduisme dan Buddhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927 membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Soekarno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tak pernah cepat puas. Ia pun berseru, “Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisnya manusia dari satu badan ke lain badan, dari satu penghidupan ke lain penghidupan, yah, boleh jadi. Tapi di sini masih ada satu pertanyaan: ‘kalau manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan dosanya, pertanyaanya adalah apakah manusia mempunyai DIRI-nya sendiri? Ah, tidak, tidak. Ini belum memuaskan.”

Bung Karno pun menjadi lelah, tak kunjung menemukan yang dicari. Ia lupa kata-kata Goethe, “Siapa yang masih berdaya, tandanya ia masih kesasar.” Dalam kepasrahannya, tiba-tiba “DIA” hadir. Tuhan datang sendiri, saat terlintas dikepalanya: “Siapakah yang mengatur perjodohan antara ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Bali? Kalau ayahnya tidak dikirim sebagai guru ke Bali, niscaya tidak terjadi perjodohan itu. Siapa yang mengirim ayahnya ke sana? Pemerintah Kolonial Belanda, tapi apakah pemerintah mempunyai maksud supaya ayahnya bertemu dengan sang ibu? Tidak, sama sekali tidak. Nah di sini lantas ketemu, bahwa DIA yang mengatur.” Sekalipun pencarian spiritualnya masih jauh dari kata akhir, setidaknya sekarang Bung Karno merasa lebih tenang karena sudah menemukan keyakinan akan adanya Dia yang menjadikan segalanya.

Proses Bung Karno menemukan keyakinan ketuhanan dan keagamaanya itu menemukan momen pematanganya saat dia dipenjara dan diasingkan. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam di penjara, barulah menurutnya “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar.” Berikut beliau menuturkan hasil permenunganya:
Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dibawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Salam Hangat Bidang Intelektual Pemuda Nusantara (PENA)

Sowan Pemuda ke Komunitas CCE



Duta Afendi (sweater merah) sedang mendongeng di aula CCE (dok.Pena)

Salah satu program rutin devisi sosial PENA adalah Sowan Pemuda. Sowan Pemuda adalah kegiatan kunjungan ke berbagai tokoh atau komunitas yang memiliki visi dan misi yang senada dengan komunitas PENA untuk membangun sinergitas dan saling berbagi pengalaman. Pada hari Jum’at, 26 Maret 2016 pukul 10.30 sampai 14.30 WIB diadakan kunjungan ke komunitas CCE (Charity of Children Education). Sowan kali ini dilakukan oleh duta Mahdi, Bagir, Ahmed, Afendi, Ain, Bela, Mela, Zainab dan Nadhira. Dalam kegiatan sowan ini, para duta bertemu dengan para volunteer komunitas CCE, diantaranya Kak Dwi, Kak Risma, Kak Dewi, dll.

Komunitas CCE adalah sebuah komunitas yang terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Jabodetabek yang peduli terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2012, berawal dari kepedulian para mahasiswa yang terbentuk dalam komunitas entrepreneur yang ingin membeli botol bekas ke kampung pemulung di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Niat mereka yang hanya ingin membeli botol bekas berubah menjadi gerakan sosial untuk membantu permasalahan pendidikan di kampung pemulung tersebut. Kepedulian mereka muncul ketika mendatangi langsung perkampungan tersebut. Disana mereka “dicurhati” oleh warga sekitar tentang anak-anak mereka yang banyak putus sekolah, dan sulit mengenyam pendidikan.

Di tahun ini, komunitas CCE di daerah Kebagusan ini sudah memiliki sekitar 30 adik asuh dari usia 4-15 tahun. Mereka memiliki sebuah basecamp tempat menyimpan barang-barang dan buku-buku serta satu petak ruangan yang dijadikan sebagai aula. Selain kelas belajar di Kebagusan, mereka juga memiliki kelas cabang di daerah lain, seperti Pejaten, Cilandak dan Jatayu. Tujuan kegiatan Sowan Pemuda sendiri yaitu membangun relasi serta belajar dari pengalaman target. Kami pun mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana membangun sebuah gerakan peduli pendidikan seperti yang dilakukan oleh komunitas ini. 

Foto bersama dengan Komunitas CCE (dok.Pena)
Setelah berbincang-bincang dengan kakak-kakak asuh CCE, kami menunaikan sholat Jum’at di masjid terdekat. Setelah sholat Jum’at, kami mengadakan kegiatan dengan adik-adik asuh CCE.  Kegiatan ini dipandu oleh duta Mela, yang dimulai dengan sesi perkenalan, baik dari adik-adik asuh maupun dari duta-duta PENA. Setelah itu, ada duta Efendi yang menceritakan beragam dongeng dan kisah-kisah Nabi. Lalu adik-adik diminta untuk menyampaikan pesan dari dongeng dan kisah-kisah yang telah diceritakan. Kegiatan bersama anak-anak ini dimulai sejak pukul 13.00 sampai 14.30 dan berlangsung dengan sangat hangat dan antusias. Di akhir kunjungan kami ini, kami memberikan cinderamata kepada kakak-kakak asuh CCE dan diakhiri dengan foto bersama.

Cinderamata yang kami berikan adalah sebuah sebuah poster bertuliskan kalimat sederhana dari Malala Yousafzai, peraih nobel perdamaian termuda. “With guns, you can kill terorists. With education, you can kill terorism.” Kalimat ini menyatakan betapa pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Beruntunglah bagi kita yang masih bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Dan merupakan tanggung jawab kita untuk saling bahu membahu mewujudkan pendidikan yang layak bagi setiap anak bangsa.

Dari kunjungan ke komunitas ini, para duta PENA belajar banyak hal. Seperti yang dikatakan oleh kakak-kakak asuh CCE, “ada suka-dukanya”. Ruang belajar yang diterjang banjir, bahkan digusur pun sudah pernah mereka rasakan selama ini. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus mengulur tangan. “Anak-anak pemulung itu adalah adik-adik kita” itulah motivasi yang tersimpan dibalik kegigihan mereka sampai saat ini. Selain itu, dengan berinteraksi langsung di lingkungan “kumuh” tersebut, jiwa kita  menjadi jiwa yang menghargai setiap hal yang kita miliki, baik makanan, rumah, apalagi pendidikan.

Selain mendapat pengalaman dari komunitas CCE, para duta juga berharap dapat bekerjasama di lain kesempatan. Seperti jika PENA ingin mengadakan kegiatan sosial bisa mengundang kakak asuh CCE untuk berpartisipasi, begitu pun sebaliknya. Semoga komunitas ini dapat menjadi inspirasi bagi para duta untuk bergerak membantu sesama. [Bbd/12]

Jumat, 11 Maret 2016

Sruput Makna: Cara Nikmat Menyesap Sebuah Makna



Belajar dari Hatta 

Bung Hatta, demikian sapaan akrab sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Pria yang bernama asli Mohammad Athar ini lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus 1902. 

Bung Hatta adalah tokoh yang dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dan wawasan yang sangat luas. Bagaimana tidak, hampir sepanjang hidupnya dihabiskan untuk bergelut dengan buku.
Baginya membaca adalah bernafas, tanpa membaca manusia akan sesak lalu mati tanpa makna. Terkait Hatta dan buku, ada sebuah kisah parody menarik dan lucu yang menggambarkan keduanya, kisah itu terkenal dengan judul 16 Peti Buku. 
Bung Hatta (source:profil.merdeka.com)

Kisah yang menceritakan tentang 16 peti buku koleksinya yang ia bawa dari Belanda, lalu ke Jakarta, diangkut lagi ke Boven Digul ketika dibuang ke sana, masih tak luput dibawa ketika dipindah-buangkan ke Banda Neira, kembali lagi ke Jakarta, dan kemudian ke Bangka.
Saking banyaknya, ketika baru tiba di Digul, teman sesama buangan, Moh. Bondan namanya, sampai tak tahan berseru: “Anda ke sini dibuang atau mau buka toko buku?” 16 peti buku! Jangan berani ceramahi Bung Hatta soal berpergian enteng. 

Bung Hatta juga dikenal karena hidupnya yang sangat sederhana dan berprinsip bahwa takwa harus memancar dalam tindakan. Ketakwaan beliau membuatnya menjadi pribadi yang amanah, jujur, dan bersih.
Semasa menjababat sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta mempunyai sebuah keinginan, beliau ingin memiliki sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Sepatu Bally adalah sebuah merek sepatu bermutu tinggi yang diinginkan banyak orang, termasuk Bung Hatta. 

Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. 

Padahal dengan status Wakil Presiden, mestinya bukan hal yang sulit bagi Bung Hatta untuk memanfaatkan posisinya tersebut agar dapat memiliki sepatu idamanya. Dia bisa meminta dibelikan oleh para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalanya, bahkan bisa saja mengambil dan menggunakan sisa dana taktis Wakil Presiden yang sebesar Rp. 25.000, pada masa itu uang dengan nominal tersebut sangat besar.
Namun bukan menggunakan uang tersebut, Bung Hatta malah meminta kepada bawahanya untuk mengembalikan dana taktis tersebut kepada Negara, Bagi Bung Hatta dana tersebut tetap bukan haknya dan suatu saat Negara. 

Alhasil hingga akhir hayatnya, pada tanggal 14 Maret 1980 beliau tidak kesampaian memenuhi keinginan sederhanaya memiliki sepatu Bally. Dan yang lebih mengharukan, guntingan gambar iklan sepatu tersebut masih tertempel didinding kamar sang guru bangsa Mohammad Hatta.
Begitu banyak pelajaran yang dapat digali serta begitu luas nilai-nilai yang dapat menginspirasi anak-anak bangsa dari hidup Bung Hatta, semoga kita dapat menggenggamnya dan ikut mengamalkanya. 

Salam Hangat, Divisi Intelektual Komunitas Pemuda Nusantara (PENA)
Top of Form
Bottom of Form
 Sruput Makna adalah artikel pendek inspiratif yang dikelola oleh div. Intelektual komunitas Pemuda Nusantara dan menjadi salah satu program rutin mingguan div. Intelektual.

Rabu, 17 Februari 2016

Happy Anniversary Pemuda Nusantara

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!!
Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

Acara ini dimeriahkan oleh materi dengan tema "Pemuda Nusantara untuk Indonesia" yang akan dibawakan oleh Bapak Hertasning Ichlas (Direktur Eksekutif YLBHU Jakarta) pada hari Kamis, 18 Februari 2016 di Basecamp Pena @ Jl. Taman Wijaya Kusuma I No. 15 Dapur Susu Fatmawati, Jaksel pada pukul 19.00 WIB.
Jadilah bagian dari kemeriahan acara bergengsi Pemuda Nusantara (PENA) dan dapatkan kejutan-kejutan menarik pada acara ulang tahun perdana kami.