About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Selasa, 13 Desember 2016

Sowan Pemuda Nusantara ke Rumah Dr. Kholid al-Walid

 

Jakarta, 13/12/16.

Salam Sejahtera, para duta hari ini devisi sosial PENA melaksanakan program Sowan yang memang sudah rutin dilaksanakan pada bulan-bulan sebelumnya, untuk sasaran Sowan tadi pagi adalah rektor kampus kita yaitu Dr. Kholid Al-Walid. adapun kegiatan tadi pagi, sebagaimana Sowan lazimnya berkunjung ke rumah beliau yang tepatnya berada di daerah Tamansari Puri Bali, Bojongsari, 
Depok.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan support moril ataupun wejangan dan kritik juga saran.
Adapun pesan yang dapat kita cermati bahwa "manusia dimana pun ia berada pasti akan cenderung kepada fitrahnya, walaupun saat ini sedang marak penyebaran kebencian, hanya ingin menerima pendapat yang sama dengan mereka, saat mengetahui sedikit berbeda spontan menganggap orang lain salah, tapi ingat bahwa manusia akan selalu cenderung pada fitrahnya dan kebencian bukanlah fitrah manusia". Fitrah manusia adalah mencintai keindahan, kebaikan, kenyamanan. Maka akan ada waktunya manusia akan muak dengan segala kebencian yang sebenarnya tak ia ketahui alasannya".




Sabtu, 10 Desember 2016

Gerakan Anti Amnesia Buku


 Dengan memperhatikan rendahnya minat baca anak – anak di Indonesia, pada hari Sabtu, 24 September 2016 Komunitas Pemuda Nusantara (PENA) bermitra dengan Dana Mustadhafin mengadakan sebuah program yakni Gerakan Anti Amnesia Buku yang bertemakan “Membaca Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Program tersebut bertujuan untuk melawan rendahnya minat baca anak – anak, dengan cara menggugah kesadaran masyarakat serta memfasilitasi buku - buku yang dibutuhkan.

Pada kesempatan kali ini Kegiatan diselenggarakan di laboratorium Taman Teknologi Pertanian dan Peternakan, Desa Cigombong, Kabupaten Bogor. Alasan dipilihnya lokasi tersebut adalah bentuk apresiasi seseorang yang bernama Dedeh Zainab, dengan keiklasannya membimbing anak – anak sekitarnya dengan mengoptimalkan perpustakaan di laboraturiun agar anak – anak gemar membaca. Ada sekitar 60 anak – anak mulai dari TK sampai dengan SMP yang menjadi binaannya. Selain memotivasi untuk gemar membaca, anak – anak juga mendapatkan beberapa materi. Antara lain materi yang diberikan adalah : pendidikan akhlak, agama, mengaji alqur’an, tata cara wudhu, tata cara shalat, sejarah para Nabi dan Rasul dll dan pembinaan dilakukan selepas anak – anak pulang sekolah.

Panitia berangkat dari Jakarta yang terdiri dari Komunitas PENA (Pemudan Nusantara) dan Dana Mustadhafin yang berjumlah 20 orang, kebanyakan panitia adalah para mahasiswa. Tiba di lokasi rombongan langsung disambut oleh Ibu Dedeh Zainab sebagai Manager laboratorium serta anak – anak binaanya. Setelah diawali perkenalan dengan anak – anak, kemudian panitia program Gerakan Amnesia Buku membagi para peserta menjadi beberapa kelompok, dan tiap kelompok mempunyai seorang mentor.
 

Selanjutnya panitia melombakan setiap kelompok untuk berkompetisi dengan didampingi para mentor, perlombaannya antara lain adalah menyusun kata – kata, kuis cerdas cermat, membuat yel-yel yang menginspirasi dan menontn film dokumenter. Perlombaan tersebut bertujuan untuk mendorong kreatifitas dan pengetahuan anak-anak. Setelah lomba, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama-sama untuk meningkatkan keakraban dan rasa kekeluargaan dengan seluruh peserta.

Acara ditutup dengan pemberian hadiah bagi para pemenang serta pemberian buku kepada seluruh anak-anak serta sumbangan buku untuk koleksi perpustakaan. Bu Dedeh Zainab dalam sambutan penutupnya menyampaikan terima kasihnya kepada panitia atas inisiatifnya membuat kegiatan seperti ini dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkesinambungan dan berkelanjutan.



Happy Gruaduate Duta Pena

Sabtu (03/12/2016), Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra (STFI Sadra) meluluskan 115 wisudawan dan wisudawati dari jenjang Strata 1 (S1) dan Strata 2 (S2). Pelaksanaan upacara wisuda semester ganjil 2015/2016 ini berlangsung di gedung STFI Sadra, Jakarta Selatan.

 Wisuda perdana ini dihadiri oleh wisudawan/i beserta orangtua/wali wisudawan/i, yang bertemakan “Kontribusi Sarjana Muslim dalam Membangun Peradaban Islam di Nusantara”. Dr. Kholid Al Walid selaku Ketua STFI Sadra membuka agenda Sidang Senat Terbuka dan prosesi wisuda secara langsung.
 
Dilanjutkan dengan pidato oleh Prof. Dr. Sayyed Mufid yang berpesan kepada wisudawan dan wisudawati bahwa kelulusan dalam Islam bukan berarti bermakna ujung atau akhir dalam perjalanan mencari ilmu.

Di samping itu, Beliau berharap bahwa kelulusan ini adalah sebagai sebuah tahapan dari kehidupan para wisudawan wisudawati, menjadi titik mula perubahan besar dan kemajuan dalam kehidupan ilmu moral dan sosial.
Beliau menambahkan bahwa Islam kini sedang berada dalam persimpangan sejarah yang amat menentukan di mana aliran-aliran pemikiran timur dan barat tidak menghasilkan sesuatu, kecuali dekadensi sosial. Namun, dunia Islam kini tengah bangkit kembali dan kebangkitan ini sifatnya menyeluruh. Melalui momentum kebangkitan ini, kita harus membangun peradaban baru Islam dengan ajaran Islam dan Al-Quran. Karena itu, kita harus bisa mewujudkan cita-cita mulia.

Kami dari komunitas Pemuda Nusantara mengucapkan "Happy Gruaduate" terkhusus kepada para Duta yang telah mencapai gelar strata satu. Semoga pencarian Ilmu kalian tidak berhenti sampai di sini saja, masih banyak yang harus kalian korbankan untuk perjalanan selanjutnya. Karena hadis mengatakan "Tuntutlah ilmu hingga liang lahat". Jangan berhenti di sini, teruslah gapai cita-cita kalian, teruslah berjuang, kepakan sayap kalian dengan membawa harum komunitas Pemuda Nusantara dan jadilah insan kamil. Kami semua di sini akan terus mendoakan kalian. Semua kontribusi yang kalian berikan kepada komunitas Pemuda Nusantara tidak akan pernah kami lupakan. 

Sekali lagi kami ucapakan, "Happy Gruaduate" selamat berkhidmat untuk masyarakat nusa dan bangsa!


#SalamPena
#KamiDutaPantangHina
#PemudaNusantara


Minggu, 30 Oktober 2016

AL-MAHDI Sang Juru Selamat

 
Pada dasarnya, salah satu faktor seseorang butuh akan adanya juru selamat adalah fitrah. Menurut Murtadha Muthahari fitrah merupakan sesuatu yang ada pada setiap diri manusia, berkembang tanpa proses belajar dan ada disetiap zaman. Misalnya, ketika seseorang melihat keindahan, dia akan merasa senang, hal itu dirasakan oleh setiap orang yang hidup di manapun asalkan fitrahnya belum mengalami kerusakan.

Manusia dengan fitrahnya yang utuh akan selalu mencintai keindahan, kenyamanan, ketentraman. Hal itu kemudian mendorongnya untuk mencari seseorang yang dianggap bisa menjadikan bumi ini tenteram dari para pendzalim, yang kemudian disebut dengan juru selamat, dan dalam agama Islam dikenal dengan sebutan Al-Mahdi. 

Berbicara mengenai juru selamat, hal ini tidak akan terlepas dari pro dan kontra. kaum Modernis berpandangan bahwa yang disebut dengan Al-Mahdi, bukanlah sesosok manusia melainkan adalah sebuah sistem, yang mana keadaan didalamnya diberlakukan sistem keadilan dan tidak ada lagi kedzaliman. Namun, pandangan tersebut justru melahirkan kritikan bagi mereka sendiri, yaitu bagaimana mungkin sebuah sistem yang “baik” bisa berjalan tanpa seorang pemimpin yang baik? .
Dari sisi “keberadaannya” sebagai seorang juru selamat, semua madzhab dalam Islam meyakini keberadaan Al-Mahdi, baik Ahlussunnah maupun syiah. Akan tetapi, sebagian madzhab meyakini bahwa Al-Mahdi masih dalam keadaan ghaib. Mengapa? hal ini dikarenakan umat belum siap akan kemunculannya.

Kedatangan Al-Mahdi merupakan kehadiran yang sudah dipersiapkan oleh Allah dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya termasuk sistem yang akan dibawanya. Seperti halnya salah satu teori filsafat yang mengatakan bahwa sebab yang tidak sempurna tidak akan memunculkan akibat yang sempurna.Oleh karena itu, dibutuhkan umat yang sempurna, yang memang sepenuhnya siap untuk menyambut kedatangannya.

Ayyatullah Ibrahim Amini berkata : Terkadang Matahari tidak secara langsung menyinari dunia, karena terhalangi oleh awan. Tapi apakah kemudian matahari tidak memberikan manfaatnya? Tidak! dia akan tetap memberikan manfaatnya, begitupun sang imam, Walaupun secara dzahir tidak terlihat namun kita akan tetap mendapatkan manfaat dari keghaibannya.

Salah satu hikmah dibalik kegaiban sang Juru selamat, yaitu dengan menantikan kedatangannya, kita akan selalu mempunyai rasa optimis karena merasa terpimpin dan akan menuju pada suatu masa yang mana kala itu tidak ada lagi kezaliman dan dunia berada titik puncak “kesempurnaannya”.
Maka, bukan pertanyaan “Kapan Al-Mahdi akan datang?” tapi “Sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya?”.

Pemateri: Dr. Khalid al-Walid

Jumat, 21 Oktober 2016

Penyempurna agama Muhammad


Yaa Imam Husain..

Telah kau sempurnahkan agama Kakek mu( Muhammad)
Tetesan darah mu menembus cakrawala
Alam semesta merintih, menjerit, merontak
Menyaksikan terpenggalnya kepala mu..
Pedang yang menyayat mu menangis pilu
Tombak yang tertancap dikepalamu memberontak.


 Engkau di bunuh, tanpa melakukan dosa
 Cahaya itu menjadi pertanda kemuliaan mu
 Langit gelap itu menjadi pertanda
 Alam semesta merintih pilu menyaksikan pembantaian mu
 Dan kuda yang meratap itu menjadi pertanda, kebaikkanmu

 Tidakkah merekah sadar ?

Semesta bergetar karena kelurga kakek mu(Muhammad)
Demi keagungan keluarga Muhammad gugusan-gugusan bintang yang tertata rapih
akan berjatuhan
Dan gunung-gunung yang begitu kokoh akan hancur lebur.

Maka sesunggunhnya aku beriman kepada kakek mu Muhammad
Selalu ku hanturkan sholawat kepadanya
Jika dengan mencintai keluarga Mu adalah suatu kesalahan
Niscaya aku tak akan pernah keluar dari kesalahan itu

Yaa Imam Husain..
Dan sampaikanlah salam rinduku untuk kakek mu(Muhammad)




Duka Ashura, Duka Karbala



Malam yang sunyi, hening dengan cucuran air mata
Hati yang mengeluh, diselimuti oleh duka dan nestapa
Termenung akan cinta di dalam duka
Terasa sakit hingga ke sukma
Zainab saksikan Al-Husein menuju Karbala
Perang syahidnya khusyuk berlumuran asma-Nya
Tenang dengan hati yang ridho dan diridhoi
Bagaikan kerelaan Ibrahim atas Ismail sang nabi
Darah suci mengalir bersama ayunan tasbih
Menandakan runtuhnya pilar Allah
Bumi berkemah, karena keluarga Musthafa
Langit pun memerah saksikan syahadah putra Murtadha
Kini dunia menjadi gelap gulita
Islamku hilang ruhnya
Zaman dibungkam sejarah duka
Tragedi kejam Yazid sang durjana
Sejarah kini menggelar drama nyata
Pesta darah di hari ‘Ashura
Melukis kanvas para syuhada
Di tanah nainawa “Karbun wa Bala’

Sabtu, 02 Juli 2016

Konsep Juru Selamat dalam Syiah Imamiah dan Film Serial Avatar The Legend of Aang



Abstract
            Every religion have concept of savior, and this concept become inspiration into world of cinema, like as serial film Avatar The Legend of Aang. One of concepts of savior which has similar story with this film is concept of savior in Shia Imamiah. This article tell about comparation between concept of savior in Shia Imamia and serial film Avatar The Legend of Aang, started from identity of them, imamiah concept and avatar cycle, occultation till the day which have been determined, the mission as a savior and character of them.
Keyword: Imamah, avatar, occultation, justice, balance, rescuing.

Abstraksi
            Setiap agama memiliki konsep juru selamat, dan konsep juru selamat ini menjadi inspirasi dalam dunia perfilman, seperti dalam Avatar The Legend of Aang. Salah satu konsep juru selamat yang memiliki alur cerita mirip dengan film ini adalah mazhab Syiah Imamiah. Tulisan ini membahas tentang komparasi antara konsep juru selamat dalam Syiah Imamiah dan film Avatar The Legend of Aang, mulai dari identitas siapa keduanya, konsep imamah dan siklus avatar, kegaibannya hingga hari yang ditentukan, misi keduanya sebagai juru selamat dan karakter keduanya.   
Kata Kunci: Imamah, avatar, kegaiban, keadilan, keseimbangan, penyelamatan.

Pendahuluan

           Setiap manusia pasti mengiginkan kesempurnaan, yang tercermin pada kehidupan yang dipenuhi oleh kesempurnaan dan kebahagiaan. Suatu kempurnaan akan menjadi kesempurnaan jika kesempurnaan itu terwujud tidak hanya dalam benak, tetapi juga dalam kenyataan. Kenyataan pun terhubung dengan apa yang ada dalam benak. Seperti halnya air, jika tidak ada air maka tidak akan ada yang namanya haus. Jika tidak ada makanan, maka tidak akan ada yang namanya rasa lapar. Dan jika tidak ada reproduksi, maka tidak akan ada daya seksual. Dengan dalil  ini, harapan-harapan manusia akan kesempurnaan sangat mungkin terwujud. Masa depan manusia akan dipenuhi oleh kedamaian dan keadilan. Kondisi seperti ini akan terjadi melalui usaha manusia, dan juga atas pertolongan Tuhan. pertolongan Tuhan itu termanifestasi pada apa yang kita namakan juru selamat.[1]

           Sebagian besar agama memiliki ajaran tentang konsep mesianisme atau juru selamat. Seperti halnya lima agama besar, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, Hindu dan Buddha. Dalam Hinduisme, ajaran mesianisme ini terdapat dalam kitab Visnu Purana, yang mengungkapkan bahwa akan muncul seorang “Kalki” atau “Sang Penunggang” yang merupakan “the tenth avatar” atau inkarnasi kesepuluh dari Wisnu di periode kali yoga atau era terburuk dari periode sebelumnya. Kalki ini akan menumpas segala bentuk kejahatan dan mengembalikan nilai-nilai kesucian. Di dalam Buddha disebutkan bahwa Siddharta Gautama meramalkan datangnya seorang Budha selainnya yang akan datang di masa yang akan datang. Budha ini bernama Metiaya yang berarti cinta. Metiaya ini akan datang untuk menegakkan sebuah kerajaan ideal di muka bumi. Sebuah kerajaan yang akan memerintah dengan keadilan dan penuh kedamaian. Kajian juru selamat dalam pandangan Kristen dan Yahudi dapat kita temukan dalam kajian Kristologi. Kristologi ini merupakan studi kritis para cendikiawan Islam terhadap agama Yahudi dan Kristen, dimana ilmu ini berasal dari kata Kristos yang berarti messiah (juru selamat). Jadi ilmu ini tidak terlepas dalam kajian juru selamat. [2]

           Setiap agama itu, walaupun memiliki keyakinan terhadap juru selamat, tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspeknya. Begitu pun dalam Islam yang berbeda dengan agama-agama lain. Dalam Islam sendiri terdapat perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam meyakini konsep juru selamat. Tetapi sebenarnya, menurut Penulis, perbedaan itu tidaklah terlalu penting, karena tidak mengubah substansi dari konsep juru selamat itu sendiri.

           Konsep juru selamat ini nampaknya mempengaruhi dunia perfilman, yang menjadikan konsep juru selamat sebagai topik utamanya. Salah satu film yang nampak memperlihatkannya adalah film serial Avatar: The Legend of Aang. Dalam film ini, kita akan melihat nuansa filsafat —atau lebih tepatnya ajaran filsafat— dalam bahasa yang dapat dipahami oleh orang awam. Dalam tulisan ini Penulis berusaha untuk mengkomparasikan film Avatar dengan konsep juru selamat yang ada dalam keyakinan Syiah Imamiah. Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan paralel, karena Penulis tidak berusaha untuk menyangkut pautkan keduanya, melainkan hanya untuk memperlihatkan kesamaan demi memaknai konsep juru selamat itu sendiri.          

Dalam rangka sistematisasi, Penulis membagi tulisan ini menjadi lima topik. Pertama, Penulis akan menjabarkan siapa Imam Mahdi dan Avatar. Kedua, makna menghilangnya Imam Mahdi dan Avatar Aang. Ketiga adalah sistem imamah dan siklus avatar. Keempat adalah misi yang diembannya. Terakhir adalah karakternya dalam menciptakan kedamaian.


Imam Mahdi dan Avatar
            Imam Mahdi dalam pandangan Syiah Imamiah berbeda dengan pandangan Sunni. Maka kita perlu tahu apa Imamah itu. Imamah memiliki beberapa definisi:[3]

1.    Dalam konteks sosial, imamah adalah kepemimpinan dalam suatu masyarakat, Imamah jenis ini juga diakui oleh Sunni, dimana imam mengurus hal-hal administratif dan politis. Dalam Sunni, istilah yang digunakan adalah khilafah.
2.    Dalam konteks religius, imamah adalah kepemimpinan dalam keilmuwan Islam, dimana imam mendapat ilmu dengan cara yang gaib dan rahasia. Ilmu ini diturunkan turun-temurun dari imam sebelumnya kepada imam berikutnya.
3.    Dalam konteks irfan, imamah adalah kepemimpinan yang bersifat spiritual atau yang lebih kita kenal dengan istilah al-walayah. Dalam setiap zaman ada manusia sempurna yang memiliki segala kualitas manusia. Tidak ada zaman yang di dalamnya tidak terdapat seorang wali sempurna atau yang biasa sering kita sebut wali quthb. Keduabelas imam diyakini sebagai wali quthb pada setiap zaman yang berbeda.

Jadi, Imamah dalam pandangan Syiah Imamiah memiliki makna majemuk, yaitu bisa dalam segi kepemimpinan politis, keilmuwan maupun spiritual. Imamah sendiri berbeda dengan nubuwah. Kenabian berakhir pada nabi Muhammad, sedangkan kepemimpinan tidaklah berakhir. Tugas seorang nabi adalah menunjukkan jalan yang benar dan menyampaikan risalah, sedangkan tugas seorang imam adalah mengawasi dan membimbing orang-orang yang menerima kepemimpinannya. Nabi Muhammad adalah seorang nabi sekaligus imam. Dalam konteks ini, para imam melanjutkan kepemimpinan Nabi saw., dan kepemimpinan itu bukanlah atas kesepakatan manusia, melainkan karena ditunjuk oleh Nabi atas perintah Allah.[4]

Pandangan seperti itu sesuai dengan konsep walayah (kewalian) dalam Irfan. Kewalian adalah kemuliaan dari Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan-Nya.[5] Ada pun tugas seorang wali adalah  mengajak manusia untuk beriman kepada Allah,  mengikuti syariat seorang rasul, dan membimbing umat manusia supaya memahami dan menerapkan syariat yang dibawa oleh rasul.[6] Terlepas dari apakah konsep imamah mempengaruhi walayah atau sebaliknya, keduanya sama-sama mengisyaratkan adanya kepemimpinan yang membimbing umat manusia ke jalan yang benar.

Dalam Syiah Imamiah, Imam Mahdi adalah imam terakhir yang bernama Muhammad ibn Hasan al-Askari. Dikenal dengan panggilan Abu al-Qasim, al-Qaim, atau Muhammad al-Muntazhar dan bergelar al-Mahdi. Imam Mahdi lahir di Samarrah pada tahun 256 H/856 M.[7] Dia adalah imam yang diyakini menjadi juru selamat dalam Syiah Imamiah. Dia adalah insan kamil yang maksum, yang akan membimbing umat ke jalan yang benar dengan keadilannya.

Secara etimologi avatar berarti descent atau turun. Avatar merupakan konsep juru selamat dalam Hinduisme, yang berarti bahwa film ini mengambil judulnya dari ajaran Hinduisme tentang juru selamat. Turun di sini dapat diartikan turun dari langit (heaven) ke bumi. Jadi, secara terminologi avatar berarti turunnya sesosok penyelamat dari langit ke bumi. Avatar ini dipahami sebagai manifestasi dari Wisnu. Sebagaimana kata Wisnu dalam Bhagavadgita, “Whenever righteousness wanes and unrighteousness increases, I send myself forth”.[8]

Dalam film, avatar adalah manusia sempurna yang mampu mengendalikan empat elemen alam yang melambangkan keseimbangan. Keempat elemen itu adalah udara, air, tanah dan api, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Avatar ada pada setiap zaman. Dia bereinkarnasi dari satu bangsa ke bangsa lain. Dalam film ini avatar yang terpilih adalah Aang, yang merupakan pengendali angin. Avatar sebelum Aang adalah Roku, yang merupakan pengendali api. Problem dari kedua avatar itu adalah kerajaan api yang mulai melakukan invansi dan merusak keseimbangan dunia.

Sistem Imamah dan Siklus Avatar

            Dalam Syiah Imamiah, kepemimpinan tidaklah bersiklus, melainkan berakhir pada imam ke-12 yaitu Muhammad al-Muntazhar. Para imam yang berjumlah 12 ada pada setiap zaman, dimana setiap zaman itu terdapat kezaliman. Para imam bertugas untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan menghilangkan kezaliman itu. Sejarah telah membuktikan bahwa manusia mengabaikan pembimbing tersebut, sehingga tercatat bahwa banyak dari para imam yang dibunuh oleh penguasa. Semua ini disebabkan oleh daya ghadab yang berlebihan dari para penguasa, sehingga rasa ingin menguasai mendominasi rasa keadilan dalam dirinya. Perbedaannya dengan Nabi adalah jika Nabi memiliki hubungan langsung dengan Allah, maka imam ditunjuk oleh Nabi atas perintah-Nya. Keduanya ditunjuk bukan atas pilihan manusia.[9]

            Jika konsep imamah terbatas pada keduabelas imam, maka dalam avatar jumlah tidak terbatas. Avatar Roku mengatakan kepada master Jeong Jeong, “Aku telah menguasai elemen seribu kali dalam seribu kehidupan. Sekarang aku harus melakukannya sekali lagi[10]. Karena konsep avatar adalah reinkarnasi, maka ketika seorang avatar mati, ia akan terlahir kembali dalam bangsa yang berbeda. Reinkarnasi itu membentuk siklus yang berputar dalam keempat elemen, yaitu udara, air, tanah dan api.[11] Avatar sebelum Aang adalah Roku yang merupakan pengendali api. Avatar sebelum Roku adalah Kyoshi yang merupakan pengendali tanah. Siklusnya seperti itu dari awal adanya avatar hingga akhir, kecuali jika siklus itu rusak.

            Avatar tidak dipilih atas pilihan manusia, melainkan reinkarnasi berjalan sesuai siklus yang ditentukan oleh alam semesta (cosmic energy). Alam semesta adalah sesuatu yang dijunjung tinggi. Dalam film avatar terkandung panteisme, dimana alam semesta adalah Tuhan, dan Tuhan adalah alam semesta. Begitu pun dalam Imamah yang monoteisme, imam dipilih oleh Nabi atas perintah Allah. Keduannya, yakni imam dan avatar, tidak dipilih atas kesepakatan manusia, karena kesepakatan manusia memiliki banyak kekurangan. Dan tentu, semua manusia tidak akan sepakat dalam menentukan suatu pilihan, karena perbedaan adalah niscaya. Maka Allah menurunkan Imam Mahdi sebagai pemersatu umat, begitu pun kekuatan kosmik memilh avatar sebagai penyeimbang dunia.

Makna Menghilangnya Imam Mahdi dan Avatar Aang

            Ketika avatar Roku bereinkarnasi dalam hidup Aang, maka Aang menjadi penerus dari Roku. Sebagai avatar, Aang harus menghadapi negara api dan mengatasi keidakseimbangan yang disebabkan olehnya. Tetapi di saat dunia membutuhkannya, dia menghilang. Menghilangnya Aang secara historis disebabkan oleh rasa sedih dan kecewanya Aang kepada gurunya yang membedakannya dengan anak-anak lain dan memisahkannya dengan biksu Gyatso. Aang tidak menerima takdirnya sebagai Avatar, karena takdir ini merusak kebahagiaannya. Maka dia kabur dari kuil dan ditelan badai. Saat ditelan badai, dia mengeluarkan energi spiritualnya yang menghasilkan pengendalian air untuk membekukan dirinya dan Appa (bison terbangnya). Hingga seratus tahun kemudian dia ditemukan oleh Katara dan Sokka dalam sebuah bongkahan es, yang menandakan misinya sebagai sang penyelamat dimulai.

            Menghilangnya Aang jika kita tinjau secara spiritual akan bermakna lain. Menghilangnya Aang pada saat itu adalah sesuatu yang tepat, atau dapat dikatakan bahwa ini merupakan takdir yang dimiliki oleh avatar Aang. Tak lama setelah Aang menghilang, kuil tempat Aang belajar dimusnahkan oleh negara api. Jika Aang tidak menghilang dan berada dalam kuil, maka dapat diperkirakan Aang pun akan mengalami nasib yang buruk, karena seorang avatar harus mendewasakan diri terlebih dahulu secara psikis dan fisik untuk mengendalikan kekuatan yang dahsyat dalam dirinya. Kenyataannya, pada waktu itu Aang belum siap. Karena Aang menghilang, maka dia selamat dari serangan negara api. Di saat Aang menghilang negara api melakukan invasi terus-menerus, menjajah dan merampas kebebasan masyarakat negeri lain. Dengan begitu, saat kemunculannya, avatar benar-benar dinantikan untuk dapat menyelamatkan dunia. Aang datang pada waktu yang tepat untuk mendamaikan dunia, yaitu pada saat dunia memang benar-benar membutuhkannya.

            Hal serupa dikatakan dalam riwayat terjadi pada Imam Mahdi. Imam Mahdi yang telah lahir pada tahun 256 H juga mengalami kegaiban (occultation). Kehidupan Imam Mahdi dapat dibagi menjadi empat fase:[12]
1.      Ketika Imam Mahdi masih dalam naungan ayahnya, sejak kelahirannya pada tahun 256 H hingga 260 H. Pada fase ini, mulai dari kelahirannya, Imam Mahdi dirahasiakan keberadaannya. Hanya segelintir orang saja yang dapat menemuinya. Hal ini disebabkan oleh ancaman para penguasa atas para imam, seperti yang dikatakan ayah Imam Mahdi sendiri;

Bani Umayah dan Bani Abbas meletakkan pedang-pedang mereka pada kami karena dua sebab. Pertama, mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki hak atas khilafah, maka mereka takut atas pengakuan kami atas khilafah dan kekhilafahan tetap berada pada pusatnya. Kedua, mereka mengetahui dari sumber-sumber yang mutawatir mengenai kehancuran yang zalim dan sewenang-wenang melalui tangan al-Qaim dari keluarga kami. Mereka berupaya membunuh Ahl al-Bait dan memutus garis keturunannya agar mereka dapat mencegah kelahiran al-Qaim atau membunuhnya…”[13]
2.      Kehidupan Imam Mahdi sejak ayahnya wafat (260 H) hingga 329 H. setelah ayahnya wafat, Imam Mahdi menjadi imam keduabelas, Imam Mahdi mendapatkan perintah dari Allah untuk menghilang (occultation). Pada fase ini, menghilangnya Imam Mahdi tidak terjadi secara total, karena beliau masih dapat dihubungi oleh wakil-wakilnya. Hal ini nampak pada banyaknya risalah-risalah yang dikeluarkan imam tentang berbagai topik, yang disampaikan melalui wakilnya. Wakilnya adalah Utsman ibn Sa`id, Muhammad ibn Utsman, Abu al-Qasim Husain ibn Ruh, dan Ali ibn Muhammad Simmari.[14] Fase ini adalah barzakh (peralihan) antara masa kehidupan ayahnya dan kegaiban panjangnya.
3.  
     Menghilangnya Imam Mahdi sejak kematian wakil keempatnya pada 329 H, Syekh Ali ibn Muhammad Simmari, hingga hari kemunculannya kelak. Kegaiban ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, karena ketidaksiapan umat menerima misi atau syariat Allah. Kegaiban Imam Mahdi memberikan kesempatan umat untuk menyempurnakan persiapannya. Kedua, karena untuk menjaga keamanan Sang Imam, agar tidak seperti pendahulunya yang tidak wafat kecuali dengan pedang atau racun. Ketiga, kehadiran atau kemunculan Imam Mahdi harus dihindari sebelum sempurnanya kondisi yang dibutuhkan untuk sebuah gerakan reformasi kebaikan terbesar.[15] Ada pun hikmah kegaiban Sang Imam ini tidaklah akan diketahui sebelum kemunculannya.[16]
4.      Kemunculan Imam Mahdi sejak berakhirnya masa kegaiban panjang.

Ada kesamaan corak antara menghilangnya Avatar dan Imam Mahdi. Sebab dari keduanya itu adalah karena ketidaksiapan. Avatar belum siap karena belum mampu menguasai keempat elemen dan tidak adanya sahabat yang membantunya. Setelah menghilang, barulah ia belajar pengendalian air, tanah dan api, juga bertemu dengan teman seperjuangan yang siap membelanya sampai mati. Begitu pun Imam mahdi, dia menghilang karena ketidaksiapan umat dalam pergerakan menghilangkan kezaliman di muka bumi. Karena ketidaksiapan umat untuk membelanya sampai mati, maka kehadiran Sang Imam akan mengancam jiwanya sendiri. Jadi, menghilangnya Imam Mahdi tak lain  demi keberhasilan penegakan keadilan itu sendiri.

Adapun hikmah menghilangnya avatar, dapat kita temukan pada episode menjelang akhir, dimana Zuko, pangeran negara api, bergabung dengan avatar. Dan bertepatan dengan turunnya komen Sozen yang menjadi klimaks dari kekuatan negara api dalam invasi, juga menjadi klimaks dari penegakan kedamaian. Tugas avatar adalah menyeimbangkan dunia, atau lebih tepatnya empat kerajaan, sehingga setiap kerajaan tetap harus memiliki pemimpin masing-masing. Kehadiran avatar setelah kegaibannya juga berperan dalam membentuk pribadi Zuko, sang pangeran negara api. Ketika komet Sozen jatuh dan negara api memulai penyerangan, sang avatar (Aang) dengan kekuatan luar biasa yang dibantu oleh teman-teman seperjuangannya, mampu mengalahkan raja api dan pasukannya. Lalu bagaimana negara api? Tentu berakhirlah masa penjajahan negara api. Tetapi bukan berarti misi Aang adalah untuk menghancurkan negara api, melainkan untuk menyeimbangkannya. Jadi negara api tetap ada. Maka dibutuhkan pemimpin baru yang adil bagi negara api, dan itu adalah Zuko. Maka di akhir cerita dunia menjadi seimbang kembali dengan sempurna karena Aang muncul di waktu yang tepat. Adapun hikmah kegaiban Imam Mahdi akan tersingkap pada saat kemunculannya, seperti dalam film avatar.

Misi Imam Mahdi dan Avatar Aang sebagai Juru Selamat
            Imam Mahdi disebut juga al-Qaim. Al-Qāim berasal dari kata qāma yang berarti berdiri atau tegak. Al-Qaim dapat diartikan sebagai seseorang yang bangkit. Imam Mahdi sebagai al-Qaim adalah seseorang yang akan bangkit untuk menindak dan menuntut balas, memenuhi bumi manusia dengan keadilan dan kebenaran sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kalaliman dan kebatilan. Tugas Imam Mahdi bukan lagi untuk mengajarkan, melainkan menghakimi dan menindak tegas semua bentuk pelanggaran. Tugas lain dari Imam Mahdi adalah membuka pikiran manusia mengenai alam-alam lain. Imam akan menyingkapkan belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kesadaran manusia akan kehidupan gaib yang tidak terindra.[17]

            Imam Mahdi memiliki tugas yang lebih berat dari imam-imam terdahulu. Jika para imam bertugas untuk membimbing manusia, maka Imam Mahdi adalah menghakimi dan menindak tegas semua bentuk kezaliman. Maka sudah tentu Imam Mahdi adalah seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dan pengikut setia yang akan menemaninya dalam rangka menegakkan keadilan. Imam Mahdi juga adalah perantara antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Seperti para nabi yang menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan, Imam Mahdi bertugas untuk membimbing manusia untuk mencapai Kebenaran tertinggi.

            Avatar Aang juga memiliki tugas yang serupa dengan Imam Mahdi. Tetapi tidak seperti Imam Mahdi yang juga bertugas untuk membimbing manusia untuk mencapai Kebenaran teringgi, avatar hanya bertugas untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan yang berarti hanya dalam wilayah duniawi. Seperti perkataan avatar Yangchen kepada Aang saat dia ragu untuk membunuh raja api,
Banyak pengendali udara yang hebat dan bijak telah terlepas dari diri mereka sendiri dan menerima pencerahan spiritual. Tapi Avatar tidak pernah bisa melakukannya, karena tugas jiwamu adalah untuk dunia. Inilah kebijaksanaan untukmu. Tugas tanpa pamrih membuatmu harus mengorbankan kebutuhan spiritualmu sendiri dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi dunia.[18]

Tugas utama avatar Aang adalah untuk menyeimbangkan dunia dengan menegakkan keadilan dan menumpas kezaliman yang dilakukan oleh kerajaan api. Aang harus menyelamatkan dan melindungi dunia, tetapi tidak berkewajiban membimbing manusia ke jalan spiritual, walaupun dia sendiri mendapatkan pelajaran sebagai avatar melalui penyingkapan spiritual.

Di sini ada kesamaan antara Imam Mahdi dan Avatar Aang. Keduanya bertugas untuk melawan kezaliman, kejahatan dan kelaliman, untuk menciptakan dunia yang damai, adil dan seimbang. Kesamaaan ini juga terdapat pada konsep juru selamat yang lain seperti avatar Kalki atau Isa al-Masih, karena pada dasarnya juru selamat hadir untuk menyelamatkan dunia, walaupun dalam berbagai versi.

Karakter Imam Mahdi dan Avatar Sebagai Manusia Sempurna
            
Dalam menciptakan kedamaian, Aang harus mampu mengendalikan keempat elemen, yakni udara, air, tanah dan api. Masing-masing dari empat elemen ini memiliki makna tersendiri. Air itu sejuk dan mengalir. Sejuk melambangkan rasa persatuan dan kepedulian terhadap sesama. Mengalir melambangkan perubahan. Bumi itu mantap dan stabil yang melambangkan kekokohan atau pendirian yang kuat. Udara adalah elemen kebebasan. Elemen ini melambangkan pelepasan terhadap ‘kemelekatan’ atau kekhawatiran duniawi dan menemukan kedamaian dan kebebasan. Api adalah elemen kekuatan. Api itu hidup dan dapat tumbuh tanpa dikendalikan. Api dapat membawa kehancuran, tidak seperti air yang membawa kehidupan, tanah yang membawa keseimbangan dan udara yang membawa kebebasan. Tetapi api juga adalah energi dan kehidupan itu sendiri. Layaknya matahari, tetapi ada di dalam diri.[19]

Menguasai keempat elemen bukan semata-mata mengendalikan keempat unsur secara fisik. Lebih dari itu, pengendalian keempat unsur melambangkan pengendalian diri, seperti pengendalian amarah, rasa takut, kesenangan, kesedihan, rasa malu, kekuatan, cinta, kebenaran, kesadaran dan kerelaan. Karena sebelum menyeimbangkan dunia, Aang haruslah mencapai keseimbangan dalam dirinya. Menguasai keempat elemen akan membuatnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Pemisahan atas keempat elemen adalah khayalan. Sesuatu yang nampak terpisah dan berbeda sebenarnya satu dan sama. Udara, air, tanah dan api yang berbeda tak lain hanyalah menunjukkan satu realitas yang sama melalui berbagai sisi. Pada zaman sebelum avatar, pengendalian tidak berlaku kepada empat elemen, melainkan pengendalian energi yang ada dalam diri. Untuk mengendalikan energi, jiwa manusia sendiri harus dapat dikendalikan.[20] Jadi karakter avatar sebagai manusia sempurna ada pada pengendalian diri. Ini merupakan ajaran dalam Filsafat Timur.

Imam Mahdi membawa misi untuk menciptakan kedamaian dan menegakkan keadilan di muka bumi. Seperti apa yang Rasulullah katakan, “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman.[21] Maka apa itu keadilan dan kezaliman? Menurut Murtadha Muthahhari, keadilan dapat ditinjau dari empat sisi. Pertama adalah seimbang, bahwa sesuatu harus proporsional, yang bukan berarti sama rata. Lawan kata dari keadilan yang pertama ini adalah ketidakseimbangan. Kedua adalah persamaan dan nondiskriminasi, bahwa tidak dibenarkan perlakuan yang berbeda karena alasan perbedaan latar belakang seperti ras dan agama. Ketiga adalah hak dan prioritas, bahwa ada perbedaan khusus bagi orang-orang tertentu sesuai karakter khasnya ataupun kebutuhannya. Keempat adalah pelimpahan wujud berdasarkan tingkat dan kelayakan, yang berarti keadilan dipengaruhi oleh kualitas individu.[22]

Keadilan adalah syarat mutlak bagi manusia sempurna. Murtadha Muthahhari membedakan kata ‘sempurna’ (kamil) dan ‘lengkap’ (tamam). Manusia lengkap mengacu pada pada aspek lahiriahnya. Sedangkan manusia sempurna mengacu pada aspek rohani, yakni spiritualitas dan intelektualitas.[23] Manusia sempurna adalah manusia yang mengembangkan semua kualitas di dalam dirinya, baik itu akal dan intuisi, secara seimbang.[24] Karakter Imam Mahdi dalam melaksanakan misinya adalah kesempurnaannya. Kesempurnaannya adalah keadilan itu sendiri.

Keseimbangan dalam avatar serupa dengan konsep adil dari segi pertama. Bahwa sebagai manusia sempurna avatar mampu menyeimbangkan empat elemen yang melambangkan kualias-kualitas dalam diri. Begitu juga Imam Mahdi sebagai manusia sempurna memiliki kualitas yang seimbang, baik secara spiritual maupun intelektual. Keseimbangan avatar secara lebih lanjut dijabarkan sebagai pengendalian diri atas keempat elemen yang ada dalam diri. Jika kita tarik dari pernyataan adil dan lawan katanya, maka kita akan menemuka hal yang serupa. Adil, dalam pengertian selain yang pertama, adalah lawan dari kata zalim. Zalim diartikan sebagai tindakan melampaui batas. Lawan dari tindakan melampaui batas adalah tindakan yang tercipta dari pengendalian diri (kesadaran atau awareness). Maka dari itu, keadilan Imam Mahdi sebagai manusia sempurna dapat dipahami sebagai pengendalian diri.


 Kesimpulan

           Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa ada kesamaan antara konsep juru selamat perspektif Syiah Imamiah dan film serial Avatar The Legend of Aang, terlepas apakah konsep dalam Syiah mempengaruhi produksi film ini. Pertama adalah keduanya sebagai sosok juru selamat. Imam Mahdi dan Avatar sama-sama merupakan pemimpin yang dinantikan. Mereka adalah Sang Penyelamat dunia yang ada di ambang kehancuran. Kedua, mereka tidak terpilih berdasarkan kesepakatan manusia, melainkan terpilih oleh kekuatan ilahi (divine energy). Imam Mahdi dipilih Nabi atas perintah Allah, dan Avatar terpilih oleh alam semesta (cosmic energy). Ketiga, keduanya sama-sama menghilang dan akan muncul pada hari yang telah ditentukan. Menghilang ini memiliki sebab dan tujuan, yakni karena ketidaksiapan dan untuk menyempurnakan persiapan dalam menyelesaikan misi. Keempat, keduanya memiliki misi utama yang serupa. Jika Imam Mahdi bertugas untuk menegakkan keadilan, maka Avatar bertugas untuk menyeimbangkan dunia. Terakhir, keduanya sama-sama mencerminkan sosok manusia sempurna. Imam Mahdi dengan keadilannya, dan Avatar dengan keseimbangannya.

Dalam agama, biasanya konsep juru selamat disampaikan dengan bahasa yang jelas dan gamblang. Sehingga tidak ada lagi interpretasi dari cerita tersebut. Sedangkan dalam film, cerita dapat dipahami secara gamblang oleh orang awam, tetapi juga dapat ditafsirkan untuk mendapatkan makna yang lebih dalam. Dengan komparasi seperti ini, bisa kita dapatkan bahwa akan lebih menarik jika konsep juru selamat disajikan dalam film, dan cerita sebuah film dimaknai melalui suatu ajaran tertentu. Hal ini tak lain dan tak bukan merupakan usaha dalam rangka mewarnai sejarah pemikiran dan kreasi manusia.


[1] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, translated by Sayyed H. Nasr (Qum: Ansariyan Publication, 2001) hal. 211-212
[2] Ali al-Kurani, Imam Mahdi: Dari Proses Gerakan Hingga Era Kebangkitan, (Jakarta: Misbah, 2004) hal-19-20
[3] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, diterjemahkan oleh Satrio Pinandito (Jakarta: Firdaus, 1991) hal. 27-36
[4] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, hal. 7-8
[5] Kautsar Azhari Noer, dkk, Warisan Agung Tasawuf, (jakarta: Sadra Press, 2015) hal. 49
[6] Kautsar Azhari Noer, dkk, Warisan Agung Tasawuf, hal. 51
[7] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, hal. 210
[8] Ed. Lindsay Jones, Ensyclopedia of Religion Part 2, hal. 707-708
[9] Murtadha Muthahhari, Imamah dan Khilafah, hal. 70
[10] Lihat Avatar The Legend of Aang episode 16
[11] Avatar The Legend of Aang episode 3
[12] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, diterjemahkan oleh Ahmad Ghazali (Jakarta: al-Huda, 2007) hal. 157-158
[13] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 157
[14] Allamah Thabathaba’i, Shi`a, hal. 210
[15] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 227-235
[16] Ahlul Bait Assembly, al-Imam al-Mahdi, hal. 222
[17] Pengantar Penerbit oleh Musa Kazhim dalam Ali al-Kurani, Imam Mahdi: Dari Proses Gerakan Hingga Era Kebangkitan, hal. 15
[18] Avatar The Legend of Aang episode 59
[19] Avatar The Legend of Aang episode 16, 29, dan 53
[20] Avatar The Legend of Aang episode 29, 39 dan 61
[21] http://id.al-shia.org/page.php?id=383, diakses pada 22 Juni 2016
[22] Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, diterjemahkan oleh Agus Effendi (Bandung: Mizan, 2009) hal. 60-65
[23] Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna, diterjemahkan oleh M. Hasyem (Jakarta: Lentera Basritama, 2003) hal. 20-21
[24] Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna, hal. 14