About Us

Pena adalah singkatan dari Pemuda Nusantara. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2014. Pemuda Nusantara adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang intelektual, keagamaan dan sosial.

Anniversary

Semarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara yang pertama!!! Mari hadiri Perayaan Ulang Tahun Komunitas Pemuda Nusantara (PENA).

The Green Patriot

The Green Patriot adalah kegiatan penghijauan yang diprakarsai oleh divisi sosial Pemuda Nusantara.

Berkawan Dengan Kesulitan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan Bukankah sudah kulapangkan dadamu, kuturunkan beban berat dipundakmu, dan kumuliakan namamu? Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Sabtu, 25 Februari 2017

Komunitas Pemuda Nusantara Menggelar PENA Award yang kedua

Dalam rangka memeriahkan ulang tahunya yang ke-2, Komunitas Pemuda Nusantara (PENA) menggelar perhelatan PENA Award untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kepada  Tokoh, Pemuda, serta Pahlawan Literasi  yang telah berkarya, mengabdi dan menginspirasi banyak orang di Indonesia, pada Selasa (21/2/2017), di Jakarta.

Ketua PENA Miftahul Razaq menyampaikan bahwa penganugerahan PENA Award ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan oleh PENA. Jika pada edisi pertama penghargaan hanya diperuntukkan untuk anggota PENA saja, kali ini penganugerahan tersebut diperluas, tidak hanya untuk anggota, namun juga para aktivis yang berada di luar komunitas PENA.

“Ini merupakan PENA Award yang kedua. Kali ini kami ingin mengapresiasi mereka, orang-orang di luar PENA yang telah berkarya untuk bangsa dan juga telah menginspirasi anak-anak muda Indonesia dengan menyuarakan nilai-nilai kejujuran, perdamaian dan persatuan,” ujar Miftah dalam sambutanya di acara PENA Award.

Pria kelahiran Demak itu juga mengatakan bahwa PENA Award dihadirkan untuk mendorong para pemuda Indonesia, khususnya anggota PENA agar selalu memiliki keinginan kuat dalam mendedikasikan bakti dan karyanya untuk Indonesia.

“Kami mengharapkan PENA Award dapat menstimulus para pemuda untuk berkarya dan mengabdi bagi bangsa Indonesia. Masa depan bangsa ada di tangan para pemuda,” paparnya.

Lebih lanjut Miftah mengungkapkan, sebagai komunitas yang bergerak di bidang Intelektual, Sosial, dan Agama, serta menjunjung nilai solidaritas dan persatuan, PENA akan berusaha terus menghadirkan program-program yang dapat memberikan manfaat kepada para pemuda serta masyarakat pada umumnya.

Dalam pagelaran PENA Award tersebut, enam orang terpilih sebagai pemenang dibagi dalam beberapa kategori; Pemuda Inspiratif (Andri Rizki Putra), Tokoh Inspiratif (Irfan Amalee), Pahlawan Literasi (Maman Suherman), Duta Terkreatif dan Terinspiratif (Zainab Aidid), Duta Teraktif (Rajib) dan Program PENA terbaik adalah Gerakan Anti Amnesia Buku.

(Amar Faizal Haidar)

Selasa, 13 Desember 2016

Sowan Pemuda Nusantara ke Rumah Dr. Kholid al-Walid

 

Jakarta, 13/12/16.

Salam Sejahtera, para duta hari ini devisi sosial PENA melaksanakan program Sowan yang memang sudah rutin dilaksanakan pada bulan-bulan sebelumnya, untuk sasaran Sowan tadi pagi adalah rektor kampus kita yaitu Dr. Kholid Al-Walid. adapun kegiatan tadi pagi, sebagaimana Sowan lazimnya berkunjung ke rumah beliau yang tepatnya berada di daerah Tamansari Puri Bali, Bojongsari, 
Depok.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan support moril ataupun wejangan dan kritik juga saran.
Adapun pesan yang dapat kita cermati bahwa "manusia dimana pun ia berada pasti akan cenderung kepada fitrahnya, walaupun saat ini sedang marak penyebaran kebencian, hanya ingin menerima pendapat yang sama dengan mereka, saat mengetahui sedikit berbeda spontan menganggap orang lain salah, tapi ingat bahwa manusia akan selalu cenderung pada fitrahnya dan kebencian bukanlah fitrah manusia". Fitrah manusia adalah mencintai keindahan, kebaikan, kenyamanan. Maka akan ada waktunya manusia akan muak dengan segala kebencian yang sebenarnya tak ia ketahui alasannya".




Sabtu, 10 Desember 2016

Gerakan Anti Amnesia Buku


 Dengan memperhatikan rendahnya minat baca anak – anak di Indonesia, pada hari Sabtu, 24 September 2016 Komunitas Pemuda Nusantara (PENA) bermitra dengan Dana Mustadhafin mengadakan sebuah program yakni Gerakan Anti Amnesia Buku yang bertemakan “Membaca Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Program tersebut bertujuan untuk melawan rendahnya minat baca anak – anak, dengan cara menggugah kesadaran masyarakat serta memfasilitasi buku - buku yang dibutuhkan.

Pada kesempatan kali ini Kegiatan diselenggarakan di laboratorium Taman Teknologi Pertanian dan Peternakan, Desa Cigombong, Kabupaten Bogor. Alasan dipilihnya lokasi tersebut adalah bentuk apresiasi seseorang yang bernama Dedeh Zainab, dengan keiklasannya membimbing anak – anak sekitarnya dengan mengoptimalkan perpustakaan di laboraturiun agar anak – anak gemar membaca. Ada sekitar 60 anak – anak mulai dari TK sampai dengan SMP yang menjadi binaannya. Selain memotivasi untuk gemar membaca, anak – anak juga mendapatkan beberapa materi. Antara lain materi yang diberikan adalah : pendidikan akhlak, agama, mengaji alqur’an, tata cara wudhu, tata cara shalat, sejarah para Nabi dan Rasul dll dan pembinaan dilakukan selepas anak – anak pulang sekolah.

Panitia berangkat dari Jakarta yang terdiri dari Komunitas PENA (Pemudan Nusantara) dan Dana Mustadhafin yang berjumlah 20 orang, kebanyakan panitia adalah para mahasiswa. Tiba di lokasi rombongan langsung disambut oleh Ibu Dedeh Zainab sebagai Manager laboratorium serta anak – anak binaanya. Setelah diawali perkenalan dengan anak – anak, kemudian panitia program Gerakan Amnesia Buku membagi para peserta menjadi beberapa kelompok, dan tiap kelompok mempunyai seorang mentor.
 

Selanjutnya panitia melombakan setiap kelompok untuk berkompetisi dengan didampingi para mentor, perlombaannya antara lain adalah menyusun kata – kata, kuis cerdas cermat, membuat yel-yel yang menginspirasi dan menontn film dokumenter. Perlombaan tersebut bertujuan untuk mendorong kreatifitas dan pengetahuan anak-anak. Setelah lomba, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama-sama untuk meningkatkan keakraban dan rasa kekeluargaan dengan seluruh peserta.

Acara ditutup dengan pemberian hadiah bagi para pemenang serta pemberian buku kepada seluruh anak-anak serta sumbangan buku untuk koleksi perpustakaan. Bu Dedeh Zainab dalam sambutan penutupnya menyampaikan terima kasihnya kepada panitia atas inisiatifnya membuat kegiatan seperti ini dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkesinambungan dan berkelanjutan.



Happy Gruaduate Duta Pena

Sabtu (03/12/2016), Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra (STFI Sadra) meluluskan 115 wisudawan dan wisudawati dari jenjang Strata 1 (S1) dan Strata 2 (S2). Pelaksanaan upacara wisuda semester ganjil 2015/2016 ini berlangsung di gedung STFI Sadra, Jakarta Selatan.

 Wisuda perdana ini dihadiri oleh wisudawan/i beserta orangtua/wali wisudawan/i, yang bertemakan “Kontribusi Sarjana Muslim dalam Membangun Peradaban Islam di Nusantara”. Dr. Kholid Al Walid selaku Ketua STFI Sadra membuka agenda Sidang Senat Terbuka dan prosesi wisuda secara langsung.
 
Dilanjutkan dengan pidato oleh Prof. Dr. Sayyed Mufid yang berpesan kepada wisudawan dan wisudawati bahwa kelulusan dalam Islam bukan berarti bermakna ujung atau akhir dalam perjalanan mencari ilmu.

Di samping itu, Beliau berharap bahwa kelulusan ini adalah sebagai sebuah tahapan dari kehidupan para wisudawan wisudawati, menjadi titik mula perubahan besar dan kemajuan dalam kehidupan ilmu moral dan sosial.
Beliau menambahkan bahwa Islam kini sedang berada dalam persimpangan sejarah yang amat menentukan di mana aliran-aliran pemikiran timur dan barat tidak menghasilkan sesuatu, kecuali dekadensi sosial. Namun, dunia Islam kini tengah bangkit kembali dan kebangkitan ini sifatnya menyeluruh. Melalui momentum kebangkitan ini, kita harus membangun peradaban baru Islam dengan ajaran Islam dan Al-Quran. Karena itu, kita harus bisa mewujudkan cita-cita mulia.

Kami dari komunitas Pemuda Nusantara mengucapkan "Happy Gruaduate" terkhusus kepada para Duta yang telah mencapai gelar strata satu. Semoga pencarian Ilmu kalian tidak berhenti sampai di sini saja, masih banyak yang harus kalian korbankan untuk perjalanan selanjutnya. Karena hadis mengatakan "Tuntutlah ilmu hingga liang lahat". Jangan berhenti di sini, teruslah gapai cita-cita kalian, teruslah berjuang, kepakan sayap kalian dengan membawa harum komunitas Pemuda Nusantara dan jadilah insan kamil. Kami semua di sini akan terus mendoakan kalian. Semua kontribusi yang kalian berikan kepada komunitas Pemuda Nusantara tidak akan pernah kami lupakan. 

Sekali lagi kami ucapakan, "Happy Gruaduate" selamat berkhidmat untuk masyarakat nusa dan bangsa!


#SalamPena
#KamiDutaPantangHina
#PemudaNusantara


Minggu, 30 Oktober 2016

AL-MAHDI Sang Juru Selamat

 
Pada dasarnya, salah satu faktor seseorang butuh akan adanya juru selamat adalah fitrah. Menurut Murtadha Muthahari fitrah merupakan sesuatu yang ada pada setiap diri manusia, berkembang tanpa proses belajar dan ada disetiap zaman. Misalnya, ketika seseorang melihat keindahan, dia akan merasa senang, hal itu dirasakan oleh setiap orang yang hidup di manapun asalkan fitrahnya belum mengalami kerusakan.

Manusia dengan fitrahnya yang utuh akan selalu mencintai keindahan, kenyamanan, ketentraman. Hal itu kemudian mendorongnya untuk mencari seseorang yang dianggap bisa menjadikan bumi ini tenteram dari para pendzalim, yang kemudian disebut dengan juru selamat, dan dalam agama Islam dikenal dengan sebutan Al-Mahdi. 

Berbicara mengenai juru selamat, hal ini tidak akan terlepas dari pro dan kontra. kaum Modernis berpandangan bahwa yang disebut dengan Al-Mahdi, bukanlah sesosok manusia melainkan adalah sebuah sistem, yang mana keadaan didalamnya diberlakukan sistem keadilan dan tidak ada lagi kedzaliman. Namun, pandangan tersebut justru melahirkan kritikan bagi mereka sendiri, yaitu bagaimana mungkin sebuah sistem yang “baik” bisa berjalan tanpa seorang pemimpin yang baik? .
Dari sisi “keberadaannya” sebagai seorang juru selamat, semua madzhab dalam Islam meyakini keberadaan Al-Mahdi, baik Ahlussunnah maupun syiah. Akan tetapi, sebagian madzhab meyakini bahwa Al-Mahdi masih dalam keadaan ghaib. Mengapa? hal ini dikarenakan umat belum siap akan kemunculannya.

Kedatangan Al-Mahdi merupakan kehadiran yang sudah dipersiapkan oleh Allah dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya termasuk sistem yang akan dibawanya. Seperti halnya salah satu teori filsafat yang mengatakan bahwa sebab yang tidak sempurna tidak akan memunculkan akibat yang sempurna.Oleh karena itu, dibutuhkan umat yang sempurna, yang memang sepenuhnya siap untuk menyambut kedatangannya.

Ayyatullah Ibrahim Amini berkata : Terkadang Matahari tidak secara langsung menyinari dunia, karena terhalangi oleh awan. Tapi apakah kemudian matahari tidak memberikan manfaatnya? Tidak! dia akan tetap memberikan manfaatnya, begitupun sang imam, Walaupun secara dzahir tidak terlihat namun kita akan tetap mendapatkan manfaat dari keghaibannya.

Salah satu hikmah dibalik kegaiban sang Juru selamat, yaitu dengan menantikan kedatangannya, kita akan selalu mempunyai rasa optimis karena merasa terpimpin dan akan menuju pada suatu masa yang mana kala itu tidak ada lagi kezaliman dan dunia berada titik puncak “kesempurnaannya”.
Maka, bukan pertanyaan “Kapan Al-Mahdi akan datang?” tapi “Sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya?”.

Pemateri: Dr. Khalid al-Walid

Jumat, 21 Oktober 2016

Penyempurna agama Muhammad


Yaa Imam Husain..

Telah kau sempurnahkan agama Kakek mu( Muhammad)
Tetesan darah mu menembus cakrawala
Alam semesta merintih, menjerit, merontak
Menyaksikan terpenggalnya kepala mu..
Pedang yang menyayat mu menangis pilu
Tombak yang tertancap dikepalamu memberontak.


 Engkau di bunuh, tanpa melakukan dosa
 Cahaya itu menjadi pertanda kemuliaan mu
 Langit gelap itu menjadi pertanda
 Alam semesta merintih pilu menyaksikan pembantaian mu
 Dan kuda yang meratap itu menjadi pertanda, kebaikkanmu

 Tidakkah merekah sadar ?

Semesta bergetar karena kelurga kakek mu(Muhammad)
Demi keagungan keluarga Muhammad gugusan-gugusan bintang yang tertata rapih
akan berjatuhan
Dan gunung-gunung yang begitu kokoh akan hancur lebur.

Maka sesunggunhnya aku beriman kepada kakek mu Muhammad
Selalu ku hanturkan sholawat kepadanya
Jika dengan mencintai keluarga Mu adalah suatu kesalahan
Niscaya aku tak akan pernah keluar dari kesalahan itu

Yaa Imam Husain..
Dan sampaikanlah salam rinduku untuk kakek mu(Muhammad)




Duka Ashura, Duka Karbala



Malam yang sunyi, hening dengan cucuran air mata
Hati yang mengeluh, diselimuti oleh duka dan nestapa
Termenung akan cinta di dalam duka
Terasa sakit hingga ke sukma
Zainab saksikan Al-Husein menuju Karbala
Perang syahidnya khusyuk berlumuran asma-Nya
Tenang dengan hati yang ridho dan diridhoi
Bagaikan kerelaan Ibrahim atas Ismail sang nabi
Darah suci mengalir bersama ayunan tasbih
Menandakan runtuhnya pilar Allah
Bumi berkemah, karena keluarga Musthafa
Langit pun memerah saksikan syahadah putra Murtadha
Kini dunia menjadi gelap gulita
Islamku hilang ruhnya
Zaman dibungkam sejarah duka
Tragedi kejam Yazid sang durjana
Sejarah kini menggelar drama nyata
Pesta darah di hari ‘Ashura
Melukis kanvas para syuhada
Di tanah nainawa “Karbun wa Bala’